Taujihat Mingguan Assalam, Dasar- Dasar Tauhid I

Taujihat Mingguan ASSALAM SUMBAR
“DASAR-DASAR TAUHID I”
Oleh : Wilda Yati (Majelis Pertimbangan Pengurus Assalam)

Harap dibacakan setiap forum-forum rapat Assalam

Alhamdulillahirobbil’alamin…. Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memperkenankan kita untuk dipertemukan di jalan dakwah ini. Tiadalah nikmat yang paling besar yang diperoleh seseorang selain nikmat iman dan islam. Patutlah sekiranya rasa syukur tiada henti kita ucapkan untuk membalas kasih dan sayangNya. Dan salah satu bentuk rasa syukur kita itu adalah keistiqomahan yang kita pilih untuk menapaki jalan dakwah ini.
Yang kedua, untaian sholawat kita do’akan teruntuk murobbi para murobbi, yakni Nabi Muhammad SAW. Semoga kita senantiasa menauladani beliau dan mewarisi apa-apa yang telah beliau tinggalkan untuk kita umatnya. Termasuk mewarisi tugas-tugas dakwah ini.
Ikhwahfillah.. seperti yang kita ketahui tauhid merupakan dasar yang paling pokok dalam ajaran islam. Pada zaman Rasulullah, beliau mendidikkan sikap bertauhid ini kepada semua orang terutama kepada para sahabat. Tauhid akan mengajari kita mengenai eksistensi Allah dan sifat-sifatNya. Dalam tauhid kita meyakini keEsaan Allah SWT. Namun ternyata tidak cukup hanya dengan yakin saja, kita perlu mempelajari bagaimana cara mengEsakan Allah.
Terlebih dahulu kita harus memahami bahwa ada tiga buah nikmat yang diberikan Allah SWT. Nikmat yang pertama adalah nikmat kehidupan. Nikmat ini diberikan Allah kepada semua makhluk secara gratis dan cuma-cuma. Nikmat yang kedua yaitu nikmat yang lebih tinggi, yaitu nikmat kemerdekaan. Dimana kemerdekaan hanya diberikan kepada manusia saja, tidak kepada tumbuh-tumbuhan, hewan dan malaikat seperti halnya nikmat kehidupan tadi.

Kemerdekaan yang dibekali dengan akal guna mencari ilmu, sehingga dengan itulah manusia menjadi makhluk yang paling tinggi derajatnya. Kemerdekaan bernilai lebih tinggi daripada kehidupan itu sendiri sehingga kemerdekaan harus dipertahankan. Orang yang merdeka selalu mempertahankan integritas mereka, tidak akan membiarkan dirinya menggadaikan kemerdekaannya demi jabatan, harta, ataupun rasa takut kepada penguasa.
Sedangkan nikmat yang ketiga yaitu nikmat hidayah keimanan. Lebih tinggi dari dua nikmat sebelumnya, dan hanya dimiliki oleh hamba-hamba yang dipilih Allah SWT. Bagi orang-orang beriman, mengorbankan dua nikmat sebelumnya menjadi mungkin, demi mempertahankan nikmat yang ketiga ini. Seperti Imam Hanafi yang rela dipenjara selama 9 tahun untuk mempertahankan keimanannya.

Meskipun sepuluh cambukan selalu mengenainya setiap hari selam 9 tahun itu. Tatkala keluar dari penjara, punggungnya menjadi setebal telapak kakinya. Ia letakkan hidayah iman diatas segala nikmat, demi bukti keimanannya kepada Allah SWT.
Tentu saja Allah Maha Kuasa membuat semua manusia beriman jika memang itu yang Dia kehendaki. Namun, Allah menganugerahi manusia akal dan pikiran untuk menelusuri jalan menuju Tuhannya. Allah menghadiahi pedoman hidup bagi manusia berupa Alqur’an. Ini membuktikan bahwa Allah tidak menginginkan keimanan dari manusia tanpa proses kemerdekaan dirinya menemukan Tuhan dan proses menggunakan akal pikirannya.

 

Allah menghadapkan manusia pada dua pilihan yakni patuh dengan segala konsekuensinya atau membangkang dengan segala konsekuensinya. Sehingga pantaslah dikatakan nikmat keimanan merupakan nikmat yang tertinggi.
Kehidupan dan kemerdekaan diberikan tanpa pandang bulu kepada manusia, namun tidak dengan hidayah iman. Bahkan kepada keluarga terdekat Rasulullah pun tidak diberikanNya. Allah mustahil memberikan hidayah kepada sembarang orang sampai orang tersebut disepuh, digembleng seumpama biji emas yang mesti dibakar dengan temperatur yang tinggi untuk dapat mengeluarkan buih-buih kotorannya.

 

Apabila sudah murni 24 karat, barulah pantas bertakhtakan intan berlian. Hidayah iman hanya diberikan kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh mau berkorban mendapatkannya. “Mereka yang berjihad di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka (hidayah) jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” QS.29:69.
Sebagaiman kita tengok sejarah. Abu Thalib yang membela Muhammad SAW, bukan karena mengakui kerasulannya. Dia membela Muhammad sebagai anak kemenakannya. Cintanya adalah cinta seorang paman kepada kemenakannya. Cinta demikian diberikan oleh Allah secara gratis. Ia mencintai Muhammad bukan sebagai manifestasi dari kecintaannya kepada utusan Tuhan yang memperjuangkan misi dakwah.

 

Ini tidak dinilai tinggi oleh Allah. Meski Rasulullah menengadahkan tangannya memohon agar diturunkanNya hidayah bagi pamannya namun Allah tidak mengabulkannya. Maka Abu Thalib pun meninggal dalam kekafirannya.
Maka bagi manusia, tugas hidup yang sesungguhnya di dunia ini adalah untuk sampai kepada beriman dan mampu mentauhidkan Allah SWT.
Bersambung….
(Dikutip dari Buku Kuliah Tauhid karangan Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim).

Share

Tia Aklima

BERSYIAR ISLAM MELALUI MEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *