Taujihat Mingguan Assalam, Ayo Berjuang Pemenang !

Oleh :  Wilda Ayati, Alumni Assalam Sumbar
(Tolong dibacakan pada rapat DPD/DPP/MPP

“Karena sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan surga.” QS. At-taubah: 111“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan hartamu, tetapi Allah melihat kepada hati dan amalmu.” HR. Muslim

 
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh..
Alhamdulillahirobbil’alamin, dengan sepenuh cinta mari kita lafadzkan syukur kepada Allah SWT, atas berbagai anugrah yang dapat kita rasakan hari ini, terutama sekali anugrah keimanan yang menjadi pengendali dalam diri, nyala iman ini hendaknya menerangi kegelapan yang menutupi keadaan sekitar, keimanan yang membantu menjernihkan hati dan menenangkan jiwa. Bahkan sesibuk apapun rutinitas hari ini, semoga iman-iman kita dapat menghadirkan ketenangan di dalamnya.

 
Sepenuh kerinduan kita berdo’a, seiring sholawat dan salam hanya kepada Nabi Muhammad SAW. Kisah perjuangannya menjadi cerita indah bagi kita hari ini. Semoga tingginya perjuangan Rasulullah akan terus menjadi inspirasi bagi kita, dimana kita tidak berbuat karena orang lain juga tidak meninggalkan jalan ini karena orang lain. Hati kita selalu bertaut pada keimanan yang menuntun kita untuk tidak mengabaikan amanah-amanah yang hari ini dititipkan oleh Allah swt.

 
Saya pernah melihat sebuah tulisan di lembaran buku seorang alumni Assalam, tulisannya bertuliskan, ”Menjadi aktivis dakwah itu kewajiban namun menjadi aktivis dakwah assalam itu pilihan.”
Subhanallah ikhwahfillah… baru beberapa waktu yang lalu kita melewati peringatan 14 tahun Assalam Sumbar. Kalau boleh saya menggambarkan, Assalam adalah taman hati, bagi jiwa-jiwa yang rindu pada basuhan nilai keislaman yang jernih dan menyejukkan pada usia-usia pemuda yang masih segar pikirannya dan optimal daya potensi yang dimilikinya.

 
Assalam mengajarkan ketegaran dan kekuatan bagi insan muda yang menimba ilmu perjuangan di dalamnya. Kalimat saja tak cukup untuk memberitahukan pada jiwa-jiwa yang kerdil tentang indahnya pengajaran demi pengajaran yang dipetik.

 
Hari ini temukan dan akuilah, bagaimana Assalam mendewasakan diri-diri kita. Hikmah yang diperoleh tidak lantas kita dapat saat bergabung di dalamnya secara struktural. Tidak cukup dengan alasan menggali ilmu agama, memiliki banyak teman atau memiliki pengalaman organisasi. Jika terbatas hanya itu yang kita cari maka layaklah hari ini kita lesu, mudah patah semangat, dan kehilangan arah. Bertolaklah dengan perbuatan memperbaiki mulai dari diri sendiri, maka justru akan lebih dari itu yang kita dapatkan. Kita akan mendapat banyak hal yang asing, janggal dan aneh yang malah mengukir senyum di wajah-wajah kita.

 

Semua itu secara jujur kita ungkapkan bukanlah kita peroleh dari mudahnya jalan perjuangan atau lengkapnya fasilitas penunjang kita untuk menyebar dakwah. Justru gejolak kepengurusan, beratnya kerja-kerja dari amanah, serta perasaan susah lainnya yang mengiringi yang menjadi faktor-faktor pembentuk diri-diri kita, yang setidaknya hari ini menyadari mengeluh tidak akan menghasilkan sesuatu yang berarti, setidaknya kita menyadari kita membutuhkan Assalam sebagai ladang amal, kita membutuhkan Assalam sebagai upaya kita agar lebih mendekatkan diri kepada Allah.Lalu mengapa Assalam? Ya, berdakwah bisa dimana saja, yang wajib itu berdakwah dan berdakwah bukan hanya di Assalam. Assalam hanya salah satu sarana.

 
Ikhwahfillah…. Coba kita sejenak merenungkan kondisi pelajar hari ini. Apa yang ada dalam pikiran kita?
Pelajar yang menjadi impian semua orang adalah pemuda cerdas, peduli, berprestasi, menghormati orang tua dan guru, menyayangi teman dan berakhlak mulia. Selain ke cafe sekolah mereka juga meramaikan diri untuk sholat dhuha waktu jam istirahat. Bacaannya buku pengetahuan dan tak lupa terselip juga diantaranya buku keislaman. Yang putri mengenakan kerudung rapi dan yang putra berpakaian rapi. Mereka peduli dengan nilai kebaikan, kejujuran dan tanggung jawab.

 

Musiknya nasyid, ekskulnya? Saya jadi teringat dengan cerita salah seorang alumni Assalam. Ceritanya begini, pada masa dahulu di suatu sekolah seperti biasa pada tahun ajaran baru, para senior atau kakak kelas membimbing adek-adek baru masuk SMA. Acaranya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Seniornya walaupun ada juga yang galak, tapi lebih banyak senior yang baik karena murah senyum. Kita persingkat saja, inti pada cerita ini adalah pas perkenalan kegiatan ko/ekstrakurikuler yang ada di sekolah tersebut.

 

Ada Pramuka, PMR, Paskibra, Seni, Olahraga dan lain-lain, tak terkecuali ROHIS. Sewaktu masing-masing perwakilan di absen, mana yang ikut Pramuka, satu orang mengangkat tangan dan dipersilahkan mempromosikan ekskulnya. Selanjutnya PMR, maka satu orang mengangkat tangan dan juga presentasi ekskul kebanggaannya. Tiba giliran Paskibra, satu orang juga mengangkat tangan dan menjelaskan ini-itu tentang kePramukaan. Selanjutnya dan selanjutnya begitu seterusnya. Hingga akhirnya tiba giliran ROHIS.

 

Tahukah apa yang terjadi? Sewaktu ROHIS dipanggil, sebagai ekskul yang terakhir akan memperkenalkan diri di hadapan adek-adek baru, yang terjadi alangkah mengharukan. Yang mengangkat tangan tidak hanya satu orang, tapi hampir keseluruhan dari perwakilan ekskul-ekskul tadi mengangkat tangan dengan bangga. Subhanallah…itulah cerita dakwah di masa lalu. Kader-kader dakwah tersebut telah mencontohkan. Berbaurlah tapi jangan melebur, mewarnai tapi jangan terwarnai. Begitu bagus cara-cara mereka dan patut ditiru. Dakwah menjadi efektif, serta hobi dan perkembangan diri mereka juga tersalurkan.

 
Secara psikologis pertumbuhan dan perkembangan mereka tercukupi dengan baik. Karena pemuda khususnya remaja memang masa pencarian jati diri, masa senang berhubungan sosial dengan teman sebaya, masa ketertarikan dengan lawan jenis, serta dimana seluruh potensi emosi dan intelektual berlimpah. Sehingga ketika tersentuh oleh dakwah, mereka akan terarahkan menuju identitas diri yang positif. Diri-diri mereka seterusnya terbentuk menjadi remaja yang berkarakter kuat.

 
Ternyata dakwah kita hari ini bernilai jangka panjang. Ingatlah diri kita saat jahiliyah dahulu, dakwah pelajar inilah yang menyelamatkan kita, membuat kita bersalaman erat dengan kebaikan, merasakan kehangatan iman. Sedikit demi sedikit kita membenahi diri dengan potensi kebaikan semampu yang kita bisa. InsyaAllah hari ini telah bersemayam di jiwa kita ruh kepahlawanan. Jiwa pahlawan yang peduli dangan keadaan disekitarnya. Dan remaja yang memiliki jiwa kepahlawanan inilah yang merupakan remaja berkarakter. Mungkin saja remaja-remaja seperti inilah yang sedang dinanti-nanti kedatangannya untuk menggapai kemajuan bangsa. Coba bayangkan jika remaja dengan karakteristik masa remajanya itu tidak tersentuh dakwah. Hari ini kita telah menyaksikan sendiri kondisi pelajar bukan?

 
Dakwah itu menjadi wajib karena jumlah kemaksiatan lebih banyak di mukabumi ini. Dan dakwah pelajar khususnya, yaitu sarana untuk menyentuh komponen bangsa usia sekolah. Kita calon-calon pemimpin masa depan dan pengisi pos-pos profesi yang akan menjadi penegak kebenaran nilai-nilai islam di setiap bidang pekerjaan di beberapa tahun mendatang.

 
Assalam akan menyumbang terhadap tujuan mulia dakwah. Pelajar adalah masa pencarian jati diri, saat-saat usia merekalah nilai kebaikan dan kebenaran mudah menyentuh ke dalam hati. Kepolosan pribadinya dan daya potensi yang menjadi ciri khasnya dapat mendukung dakwah. Kematangan tarbiyah di usia sekolah dibutuhkan. Maka jangan remehkan kerja-kerja sederhana kita hari ini. Sebuah hadist menyampaikan sesuatu yang menjadi syarat atau pendukung terpenuhinya sebuah kewajiban, maka hukumnya pun menjadi wajib. Sehingga tidak lagi salah apabila dikatakan bahwa keberadaan kita di Assalam hari ini wajib.

 
Kita tidak tahu ekspresi apa yang ingin kita tunjukkan dalam usia Assalam yang menginjak remaja ini. Bersedihkah atau kita patut untuk berbangga? Itu semua tergantung subjektif pandangan kita masing-masing. Namun semoga momentum ini kita jadikan sebagai ajang bermuhasabah dan bertaubat diri. Allah telah menitipkan Assalam pada diri-diri kita, bukan untuk diabaikan, bukan untuk digeluti beberapa saat saja, namun untuk diikuti perputaran roda perjuangannya. Orang yang bersemangat, fokus dan bervisi untuk ke depan lah yang akan bertahan, dan yang lainnya terseleksi dengan sendirinya.

 
Ikhwahfillah…sungguh Assalam membantu kita untuk berani berbuat banyak dan bermimpi besar. Di dalamnya tak kita temukan selain kasih sayang persaudaraan, yang kita tuai lewat kesabaran dan pengorbanan.
Ikhwahfillah…kegembiraan ini bisa dirasakan oleh semua orang. Termasuk kita yang menjadi aktornya hari ini. Kita yang berada di struktural kepengurusan. Lagi-lagi soal pilihan. Jika kita ingin lebih baik lagi mulailah dari diri sendiri, dari hal yang kecil dan dari sekarang juga. Gagal adalah jalan menuju sukses. Kesalahan adalah jalan menuju keberhasilan belajar.

 
Dahulu prestasi gemilang islam kita ketahui didapatkan dengan sepenuh perjuangan. Sekarang prestasi gemilang Assalam berada di tangan kita. Ingatlah bahwa prestasi diperoleh tidak dengan mudah. Lagi-lagi soal pilihan, enggan berjuang atau semangat berjuang? Mengeluhkan perjuangan atau memupuk kesabaran? Apapun itu, yang jelas seorang pemenang tidak akan berhenti di tengah jalan, ia akan memenangkan ujian dan tantangan. Ikhwahfillah…engkaukah pemenangnya???
Ayo berjuang pemenang!!!

Share

Tia Aklima

BERSYIAR ISLAM MELALUI MEDIA

Satu tanggapan untuk “Taujihat Mingguan Assalam, Ayo Berjuang Pemenang !

  • Juni 10, 2017 pada 10:36 am
    Permalink

    Masya Allah.. ?
    Allahu akbar..!!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *