Airmata cinta


ASSALAMMEDIA-“Gue tu paling gak bisa nangis!”
“yang nangis tu biasanya cuma cewek manja!”
“nangis itu tanda lemah!”

Eitss.. masih sering dengar istilah seperti diatas? Atau sering kamu sendiri yang ngucapin kayak gitu? Yok kita istighfar dulu… semoga itu bukan pertanda kerasnya hati kita.

Abu Bakar as-shiddiq Radhiyallahu ‘anhu berkata, : Jika kalian mampu, seringlah menangis. Jika tidak dapat menangis, maka berusahalah menangis. Inilah Abu Bakar, sosok teladan setelah Rasulullah SAW. Yang dirindukan syurga dan boleh memasuki syurga lewat pintu manapun yang ia suka. Dan beliau pun menangis.

Di sisi lain, kita juga mengenal bagaimana Umar Bin Khattab, sosok yang bahkan “Setan pun takut padanya”. Dalam shalat shubuhnya, kebanyakan beliau membaca surat-surat Al-Quran yang panjang, diantaranya surat al kahfi, Thaaha, dan surat lain sambil menangis terisak-isak, sehingga suara tangisnya terdengar hingga beberapa shaf. Suatu ketika, Umar Radhiyallahu ‘anhu membaca surat Yusuf dalam shalat shubuhnya. Ketika sampai di ayat “

Ya’qub menjawab, ‘sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihan hatiku.” (Q.S Yusuf : 86)

Umar terus menangis terisak-isak sampai habis suaranya. Terkadang ia terus membaca Al-Quran sambil menangis di dalam tahajjudnya sampai jatuh sakit.

Nah, lalu apa kata Rasulullah tentang menangis ini?

“Suatu hari Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah SAW, “adakah diantara umatmu yang akan masuk surga tanpa hisab?” Rasulullah SAW menjawab, “ ya, yaitu orang yang banyak menangis karena mengingat dosa-dosanya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda “ Tidak ada tetesan yang lebih dicintai Allah Subhanahu Wa ta’ala melebihi dua tetesan, Pertama tetesan air mata yang menangis karena takut kepada Allah SWT. Kedua, tetesan darah yang jatuh di jalan Allah SWT.” (Dari Kitab Fadhilah Amal)

Jika atas urusan dunia yang hanya sementara kita begitu sering menangis, maka kenapa karena urusan akhirat kita tak menangis, atau setidaknya “mencoba” untuk menangis?

Masihkah iman itu merasuk ke dada? ataukah ia sekedar terucap di lisan, atau sekedar kau gambarkan di foto profil sosial mediamu?

Tanyakan pada hatimu, “kapan terakhir kali kau menangis karenaNya?” atau kapan terakhir kali kau mengadu menangis kepadaNya? duhai hati… kenapa kau bisa sekeras itu?

Sedang kematian itu bisa datang setiap detik, kenapa tak kau tangisi diri yang masih lalai dari amanah hidup yang Dia berikan?

Kematian hati..

Mungkin itu yang perlu kau tangisi hari ini..

 

Astaghfirullahal’adzhiim..

Bergetar rasanya hendak menulis ini, sedangkan yang menyampaikan mungkin lebih hina di hadapan Sang Rabb..

Ingin rasanya melihat wajah-wajah syurga itu. Rasulullah yang mampu membuat semua sahabat berkorban jiwa dan harta karenanya, teduhnya wajah Abu Bakar, teguhnya Umar, dan para sahabat lainnya Radhiyallahu ‘anhum. siangnya mereka lelah berusaha dan berjuang, malamnya mata mereka tak henti menatap dan mengharap, menangis karena takut dan cinta kepada Allah..

Semoga untaian kalimat yang sedikit ini mampu sedikit mengingatkan yang membaca dan tentunya yang menulis. Semoga Allah himpunkan hati-hati kita selalu dalam cintaNya, dalam perjuangan yang ujungnya hanya satu, tempat dimana tiada keletihan dan rasa sakit. Syurga, insya Allah.

Ya Muqallibal Quluub, Tsabbits Qalbi ‘ala diinik..

Mari berbekal….

 

(Hunter)

Share

Annisa Khairani

Mahasiswi Psikologi Universitas Andalas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *