Akhir Jejak Ramadhan

Ramadhan-25
Ramadhan telah memasuki akhir perjalanannya. Ritme ibadah semakin menyurut. Masjid-masjid mulai ditinggalkan jamaahnya. Sebagian masjid jamaahnya hanya tinggal satu atau dua shaf saja. Tak terdengar suara orang bertadarusan, membaca surat cintaNya. Sepi. Anak-anak muda hanya duduk berkumpul dan mengobrol ngaur ngidul. Masjid jamaahnya yang tersisa hanya orang-orang tua. Anak-anak muda tidak tertarik lagi, mungkin mereka mulai bosan mengisi agenda ramadhan atau mungkin pesantren ramadhan telah berakhir. Anak-anak bermain, berlarian sambil membunyikan petasan dimanapun mereka suka. Kekusyukkan beribadah tidak tampak lagi, pengurus masjid sibuk melarang anak-anak yang berisik dipelataran masjid.
Kami lupa, sejak satu dan dua bulan yang lalu kami selalu panjatkan doa kepada Allah untuk disampaikan kepada ramadhan. Kami selalu bilang kami begitu merindukan ramadhan. Ketika itu pula kami bilang kami tidak sabar untuk berjumpa dengan ramadhan. Takut rasanya, bila ternyata sisa umur yang tak pasti ini membuat kami tak punya kesempatan untuk saling menyapa dan memberi arti. Akhirnya kami berjumpa dengan ramadhan bahkan telah dipenghujung perjalanan. Tapi perlakuan kami kepada ramadhan tidak seperti yang diimpikan ketika bulan sya’ban. Apakah kamu sedih ramadhan?
Ramadhan semenjak kedatanganmu kami memiliki agenda setiap sorenya. Senin buka bersama dengan A, selasa buka bersama teman satu kelas, rabu buka bersama alumni, kamis buka berbuka dengan organisasi/komunitas X, jumat… sabtu… minggu… dan begitu seterusnya. Begitulah cara kami merayakan diantara waktu yang mustab berdoa, kami habiskan dengan percuma. Tarwih kami lewatkan karena sunnah, shalat malam jangan ditanya, mana sunggup kami menunaikannya. Malam-malam kami habiskan dialam mimpi karena kami terlalu lelah, jangan sampai kami kesiangan sahur bisa menjadi salah satu alasan kami untuk tidak berpuasa.
Ramadhan telah memasuki akhir perjalanannya. Ada fenomena yang amat paradok, getir, dan menyayat batin setiap yang punya hati. Jalanan tetap padat dan kemacetan bukan menjadi hal yang baru disaat adzan isya berkumandang. Kami menghabiskan waktu untuk berburu dalam menyambut hari nan fitri. Kami menyiapkan pakaian, sepatu, jilbab, kue untuk tamu bahkan parcel lebaran untuk sanak family. Kami lebih memilih menghabiskan malam didalam plaza, toko baju, toko kue, daripada melakukan I’tikaf dimasjid yang menguras banyak energi, mata yang mengantuk, tidur diatas tikar, tidak nyaman karena biasanya kami tidur diatas spring bed yang empuk, ruangan yang bisa dikontrol suhunya. Apakah seperti ini kami menghabiskan waktu bersamamu ramadhan ?
Ramadhan telah memasuki akhir perjalanannya. Ramadhan hingga detik ini kami masih berat mengeluarkan uang untuk bersedekah tapi begitu ringan mengeluarkan uang untuk membeli takjil, makanan yang berlimpah ketika buka puasa yang pada akhirnya akan terbuang karena perut kami tidak mampu lagi menerimanya. Kami lupa bahwa saudara kami di Suriah, di Palestina menangis kelaparan, tapi semangatnya untuk berjihad fisabillah, menghafal Al-quran lebih tinggi dari kami yang hidup dengan penuh kenyamanan. Kami lupa apakah ini istidraj yang membuat kami lupa untuk memaksimalkan ibadah dibulan yang penuh dengan keberkahan ini. Apakah seperti ini yang kamu harapkan ramadhan? Entahlah ramadhan, kami tidak memahami kamu seutuhnya.
Ramadhan telah memasuki akhir perjalanannya. Bercermin pada empat belas abad silam Rasulullah sangat sedih berpisah dengan ramadhan. Rasulullah seorang hambah yang dicintai Allah dan dijamin masuk syurga menghabiskan seluruh waktu, tenaganya dipenghujung ramadhan. Begitu juga dengan sahabat-sahabat. Kami yang tidak ada jaminan apapun begitu sombong bahkan tidak peduli dengan waktu yang tersisa dipenghujung ramadhan. Kami hanya sibuk mempersiapkan penyambutan idul fitri, THR yang akan dibagikan, hingga kami terlalu susah mengeluarkan uang untuk sedekah karena kami takut THR tidak ada lagi atau mungkin kami bisa lupa dengan zakat fitrah. Zakat yang harus kami tunaikan sebagai penyempurna puasa kami, atau bahkan kami hanya menunggu agar orang memberi zakatnya kepada kami. Apakah seperti itu makna dari kedatanganmu ramadhan ?
Ayolah kita kembalikan posisi ramadhan itu sebagaimana Rasulullah dan para sahabat melakukannya. Sekarang belum berakhir waktunya, menangislah, dan menyesallah atas kekeliruan kita dalam menyambut ramadhan. Menangislah bahkan ketika mulut tak mampu berkata, karena ramadhan bukan tradisi dan ramadhan bukan rutinitas. Ingatlah bahwa Kemenangan Islam yang pertama diperang badar dibulan ramadhan.

(Biiznillah)

Share

Satu tanggapan untuk “Akhir Jejak Ramadhan

  • Juli 1, 2016 pada 1:06 am
    Permalink

    tentang rindu…
    rindu yg dulu menggebu dan senantiasa mengundang lisan untuk mengukir doa nan syahdu…
    tapi rindu itu seringkali lupa akan “dirinya” ketika sudah bertemu sang penawar…
    terima kasih tulisan indahnya biiznillah…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *