Anak-anak Indonesia

HARI ini, 23 Juli, kita memperingati Hari Anak Nasional. Melalui peringatan Hari Anak Nasional, kita diingatkan betapa pentingnya kita memperhatikan hak-hak anak. Hak anak itu berupa jaminan keamanan, hak mendapatkan kesehatan, terlindunginya anak dari makanan dan minuman yang membahayakan kesehatan, terlindunginya anak dari tayangan yang merusak ranah pikir mereka, terpenuhinya hak kasih sayang dari orangtua, dan lain-lain. Dengan terpenuhinya hak-hak anak, sama artinya kita menyiapkan mereka untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, sehingga muncul generasi penerus bangsa yang tangguh, berkualitas, kreatif, sehat, cerdas, berprestasi, dan berakhlak mulia.

Sampai kini kita masih sering menyaksikan banyak anak kurang perhatian dari orangtuanya, dari lingkungan kehidupannya, masih sering terjasi kasus gizi buruk, dan sebagainya. Kasus gizi buruk, sampai saat ini belum adanya suatu penanganan secara terpadu. Catatan di Kementerian Kesehatan menyebutkan, jumlah balita di Indonesia tahun 2013 tercatat 23,7 jura. Dari jumlah itu, sesuai hasil penelitian Riset Kesehatan Dasar secara nasional pada tahun yang sama, 19,6 persen atau 4.646.933 balita menderita gizi buruk. Peringkat tertinggi gizi buruk balita ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur, 33 persen, dan terendah di Bali, 13,2 persen. Rata-rata setiap provinsi lebih dari 13 persen masih terdapat balita dengan status gizi buruk. Ini menunjukkan bahwa dua dari 10 balita di Indonesia masih mengalami gizi buruk.

Di luar kasus gizi buruk, masalah anak-anak di Indonesia masih dominasi oleh kasus-kasus yang berakar dari kerentanan keluarga. Kerentanan itu berupa kerentanan secara ekonomi, sosial, kemasyarakatan, dan keagamaan. Penelantaran anak, misalnya, menjadi masalah serius bak fonomena gunung es yang terus meningkat. Kasus-kasus penelantaran anak memiliki motif yang sangat beragam. Kasus yang dominan adalah kasus anak jalanan, pembuangan dan penelantaran bayi, serta anak telantar karena orangtua bekerja, kasus kekerasan pada anak. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena jumlah anak yang mengalami permasalahan di Indonesia sangat banyak. Hampir di seluruh provinsi ditemukan kasus kekerasan terhadap anak. Bahkan banyak kasus tak dapat terselesaikan karena minimnya perhatian pemerintah.

Sebagai calon penerus bangsa, anak-anak membutuhkan perhatian sangat serius. Mereka membutuhkan kelembutan dan kasih sayang tak saja dari orangtua, tetapi juga lingkungan. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang harmonis dan bahagia akan tumbuh dan berkembang menjadi orang yang dapat memberikan kasih sayang kepada orang-orang yang berada di sekitarnya. Hal ini sangat berbeda dengan anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak harmonis, atau bahkan dengan anak yang tumbuh dengan seorang  sosok ibu atau ayah saja. Jika masa kecil anak tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup dari orangtua, anak tersebut cenderung akan tumbuh dewasa tanpa memahami arti kasih sayang. Ini tidak kita harapkan, bukan?

Oleh: Harmoko

Sumber: http://poskotanews.com/

Share

ASSALAM Sumatera Barat

Asosiasi Pelajar Islam (ASSALAM) Sumatera Barat. Bersatu Menjalin Ukhuwah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *