Belajar dari Dzan Nun (Bagian 2)

paus

Yunus Alaihissalam pergi dengan menaiki kapal yang dipenuhi oleh penumpang. Karena takut tenggelam oleh beban kapal yang terlalu berat, mereka yang berada di atas kapal kemudian melakukan undian. Nama siapa saja yang keluar maka ia akan dilemparkan ke laut untuk meringankan beban kapal. Ternyata nama Yunus Alaihissalam keluar dalam undian tersebut. Setelah itu Yunus Alaihissalam melemparkan dirinya ke laut dan atas kuasa Allah dia ditelan oleh ikan besar.

Yunus Alaihissalam berada dalam perut ikan yang membawanya. Beliau berada dalam  tiga kegelapan, yaitu gelapnya perut ikan, gelapnya dalam lautan dan gelapnya malam. Di dalam perut ikan, beliau mengingat Allah dan memanjatkan do’a. “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim”. QS. Al-Anbiya’: 87.

Allah Ta’ala menjawab do’a beliau, sebagaimana Allah telah berfirman, “Maka kami kabulkan (do’anya) dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah kami menyelamatkan orang-orang yang beriman” (QS. Al-Anbiya’: 88). Atas izin Allah, ikan besar itu memuntahkan Yunus Alaihissalam ke daratan. “Kemudian Kami lemparkan dia ke daratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit. Kemudian untuk dia Kami tumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu” QS. Ash-Shaffat: 145-146.

Yunus Alaihissalam terdampar di tanah yang tandus dalam keadaan lemah. Dan Allah yang telah memberikan kesembuhan dan kekuatan kembali padanya. Sehingga setelah pulih, Allah mengutusnya kepada kaum terdahulu. Semuanya kemudian beriman kepada Yunus Alaihissalam, sebelum turun azab kepada mereka. “Maka mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu” (QS. Yunus: 98).

(Bersambung)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *