Zaid Bin Khathab, Beramal Dalam Diam

Kala itu perang Yamamah sedang berlangsung. Pasukan muslim berusaha menghentikan kekacauan yang telah diciptakan oleh Musailamah al Kadzdzab, si nabi palsu. Di tengah sengitnya pertempuran, seorang pria menengadahkan kedua tangannya ke arah langit. Mengagungkan Tuhannya yang Maha Agung dan bersyukur atas segala nikmat-Nya. Setelah itu, ia kembali pada pedangnya dan sikap diamnya. Ia berjanji pada dirinya tidak akan bicara hingga kemenangan tercapai ataupun syahid diraih.

 
Kemenangan tampaknya sudah semakin dekat. Ia terus menerjang ke tengah barisan musuh. Menebaskan pedang ke tubuh-tubuh kotor para musuh Allah. Angin surga semakin terasa membelai kulitnya. Wanginya begitu semerbak. Ia pun roboh setelah seorang musuh berhasil menghunuskan pedang ke tubuhnya. Senyum tersungging di bibirnya. Syahid yang sudah diimpikan sejak lama akhirnya menyapa dirinya. Kalimat tauhid terdengar menggema, mengiringinya menuju perjumpaan mulia dengan Sang Rabb yang begitu dirindukan.

 
Badannya tegap. Tinggi badannya melebihi tinggi badan rata-rata orang kebanyakan. Hal inilah yang membuatnya akan mudah dikenali, bahkan dari kejauhan sekalipun. Di antara kerumunan pasukan Islam yang pulang membawa kemenangan ke Madinah, Umar bin Khathab ra tampak mencari-cari sosok pria jangkung itu. Seorang pasukan muslim kemudian menghampirinya. “Engkau tidak akan mendapatinya bersama kami, wahai Umar. Ia telah menepati janjinya pada Allah”, bisiknya pada Umar ra lirih. Mata Umar ra berkaca-kaca. “Rahmat Allah baginya. Ia telah mendahului diriku dengan dua kebaikan. Ia masuk Islam lebih dahulu dan juga menjemput syahid lebih dahulu”.
Namanya Zaid bin Khathab ra. Dia adalah kakak Umar bin Khathab ra. Meskipun hanya saudara seayah, mereka selalu saling mendukung dan menyayangi. Dirinya memang tak seterkenal sang adik. Namun, kemuliaan dan pengorbanannya demi agama Allah begitu mengagumkan. Perkataannya tak sebanyak perbuatannya. Ia senantiasa beramal dalam diam. Melakukan kebaikan-kebaikan dalam diam tanpa kaum muslimin ketahui kecuali hasilnya.

 

Dalam diam ia menjadi salah satu bagian dalam barisan awal yang menyambut Islam dengan hangat. Dalam diam ia berhasil membunuh Rajjal bin ‘Unfuwah, si pengkhianat yang menjadi tangan kanan Musailamah al Kadzdzab setelah kewafatan Rasulullah Saw. Dalam diam ia telah mengukir kenangan indah tentang dirinya di hati sang adik tersayang dan juga kaum muslimin. Dan dalam diam ia meyakini sepenuh hati bahwasanya Allah Maha Mengetahui yang nampak maupun tersembunyi, yang terucap maupun tertahan di hati.

 
Begitulah perjuangan di jalan Allah, sebagaimana yang diyakini oleh Zaid bin Khathab ra. Jalan ini tidak butuh orang-orang pintar yang senang berkoar menunjukkan amalannya (baca: di dunia nyata ataupun dunia maya). Jalan ini hanya perlu dipenuhi oleh mereka yang ikhlas dan fokus menjalankan tujuan dakwah lillahi ta’ala. Mereka yang senantiasa mengibaratkan dirinya bak gula pasir. Gula pasir yang selalu memaniskan segala hal yang dicelupinya. Gula pasir yang tak pernah menuntut namanya disebut saat makanan dan minuman yang dihasilkan dengannya terasa begitu manis dan nikmat. Maka jadikanlah dirimu seperti gula pasir. Dan cukuplah Allah sebagai sebenar-benarnya tujuan dan penilai amalan. Wallaahu‘alam.
(Riny Avriana)

Share

Tia Aklima

BERSYIAR ISLAM MELALUI MEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *