[Taujihat Series] Cara Terbaik membeli Impian Adalah Berniaga dengan Allah

dream

( WAJIB DIBACAKAN PADA FORUM RAPAT MPP/DPP/DPD/ASMED/TPW ASSALAM  PADA RENTANG WAKTU  22 – 29  MARET 2017

Oleh :MPP KADERISASI ASSALAM SUMBAR

Setiap Aktivis dakwah, khususnya Pengurus Assalam baik didaerah-DPD maupun Pusat-MPP-DPP. Masing-masing memiliki, obsesi, impian. Atau akrab dengan istilah cita-cita. Kamu juga kan ?

Tapi Impian mu, cita-citamu tidak mudah diwujudkan. Tidak semudah apa yang kita fikirkan. Cita-cita kita layaknya sebuah barang yang mahal, indah berharga pula. Gimana cara mendapatkannya? (Gak mungkin nyuri, terus minta Kanjeng Dimas menggandakannya) Maka pilihannya terbaiknya, kita harus membelinya.  Tapi dengan apa ya ?

Dalam membeli impian, manusia itu seakan terbagi menjadi 3 tipe

Level 1. Kalau lagi punya harapan, impian, hajat = Dia akan berusaha

Level2. Kalau lagi punya harapan, impian, hajat = Dia akan berusaha dan berdoa

Level3. Kalau lagi punya harapan, impian, hajat = Dia akan berusaha, berdoa dan beramal.

Nah, Orang-orang level 3 itulah yang terbaik. Ia punya impian, maka Ia berusaha mewujudkannya, pun Ia menyelipkan impian dalam doa panjangnya. Tidak cukup sampai disitu. Ia juga akan beramal kebaikan. Contoh sederhana; Kalau lagi UTS, Ujian Semester. Pasti gak cukup giat belajar. Si ‘Aku’ juga  akan berdoa,

“Ya Allah mudahkan, lancarkan ‘Aku’ menjawab soal ujian Ya Allah..”

……………

Dan ‘Aku’ juga beramal kebaikan. Infaq yang biasa ‘Aku’ keluarkan bergambar patimura di masa penjajahan, tetiba berganti gambar soekarno-hatta di masa kemerdekaan. Dhuha ‘Aku’ yang biasa bolong-bolong, sekarang menjadi rutinitas harian semasa ujian. Qiyamul lail menjadi selimut-ku di tengah malam. Tilawah yang biasa hanya beberapa lembar, ditingkatkan sekian juz per hari. Barakallahulakum. Semoga ‘Aku’ ‘Kamu’ ‘Kita’ istiqomah !

Maka amanah dakwah harusnya juga begitu. Khususnya di Assalam Sumbar. Harusnya adalah bagian dari daftar amal kebaikan itu. Dakwah yang ‘Aku’ kerjakan hari ini, bukan hanya untuk orang lain. Tapi sejatinya, itu buat kemudahan mencapai cita-cita‘ku’. Itulah yang Allah Ridho. Demikianlah cara kita memundi ‘uang’ untuk membeli impian dari Allah SWT.  Sempit sekali kita memandang, bila tidak melihat peluang amal dalam pertemuan agenda dakwah. Tidak hadir tanpa alasan syar’i dan jelasnya konfirmasi.  Demi obsesi, atas nama impian pribadi, sehingga agenda dakwah menjadi di nomor sekiankan.

Agenda Rapat, Dauroh misalkan, itu kan majelis ilmu. Momen dimana Allah membangga-banggakan kita dihadapan Malaikat (HR. Muslim). Waktu saat Malaikat merendahkan sayapnya diatas majelis kita sebagai penghormatan (HR. Ahmad) momentum mustajabnya do’a, bahkan pendosa yang singgah dalam majelis itu pun akan diampuni (HR Muslim). Sekarang bisakah kita rubah paradigmanya; bahwa rapat, dauroh dan agenda Assalam itu adalah peluang amal kebaikan, serupa dengan amalan yaum-mu, Mereka semua penyempurna cita-cita-mu yang Allah ridhoi, InsyaAllah

Berusaha, berdoa dan beramal itulah bentuk perniagaan kita dengan Allah demi membeli impian. Karena mereka setali tiga uang, maka mestilah dilakukan seluruhnya. Jangan ada satu perkara yang ditinggalkan. Karena boleh jadi itu mempengaruhi impian kita kelak. Amal adalah sebaik-baik perkara dan berharaplah fadhilah dunia dan akhirat. Dunia digenggaman, akhirat di hati. Apapun impian mu akan dunia, Tetaplah surga sebagai obsesi tertinggi.

Wahai orang-orang yang beriman, Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dan berjihadlah (berjuanglah) dijalan-Nya, agar kamu beruntung
(Q.S Al Maidah: 35)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *