Taujihat Mingguan Assalam, Doorprize Yang Kita Sukai

DOORPRIZE YANG KITA SUKAI
Oleh Elfans Bawalsyah
Alumni ASSALAM SUMBAR
(Mohon dibacakan pada rapat MPPDPP, DPP, MPPD, DPD Assalam SB )

Maha Suci Allah dengan segala penciptaanya. Dia jadikan kita segolongan orang – orang yang saling mencintai karena-Nya. Semoga perasaan seperti ini masih tetap dijaga oleh Allah hingga akhir hayat kita. Sehingga menjadi energi yang mengalir disetiap helaan nafas kita, disetiap kelelahan mendera tubuh kita, sehingga dengannya kita kembali bangkit untuk bergerak. Walaupun tubuh kita akhirnya sudah menyerah, tapi semangat kita untuk mengerakkan Assalam ini tdak akan pernah lelah. Sampai lelah itu, benar – benar lelah menghampiri kita. Sampai galau itu, menjadi galau untuk menundukkan kita.

Ikhwahfillah tercinta, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah untuk hambanya yang memasuki surga: Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barobatuh.

Beberapa bulan ini dan ke depan, beberapa daerah di wilayah da’wah Assalam telah selesai dengan serangkaian kegiatan. Sebut saja Bukittinggi, Pesisir Selatan,Kabupaten Solok, Sijunjung, Agam, dan Padang Pariaman. Pekan depan menyusul, Padang, Payakumbuh, Kota Solok. Ada yang menyelesaikan hajatan Musda 2, Up grading, Training Motivasi, Out Bond Taining, hingga bersiap menyelenggarakan Radar 1. Kondisi ini menggambarkan bahwa kita semua sangat bersemangat dalam menyonsong kepengurusan tahun ini.

Saya yakin dan percaya, dalam proses mengangkatkan acara – acara tersebut, tidak sedikit pengorbanan yang telah dipersembahkan oleh pengurus DPD Assalam beserta Pembina. Kepada mereka saya ingin mengatakan “Antum Ar-ruhul Jadid fi Jasadil Ummah”, engkau adalah ruh pembaharu di dalam jasad ummat yang sekarang ini.

Antum adalah generasi yang ummat ini tunggu-tunggu, untuk akhirnya membuat mereka kembali berani menegakkan kepala, percaya diri di depan orang yang mendzalimi mereka, dan kembali berlari mengejar ketertinggalannya. Akhi saya iri dengan amal – amal antum. Allah telah muliakan antum dengan jihad di jalannya. Ditengah teman sebaya antum menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna.

Saudara ku, mengingat kerja – kerja antum itu, menghantarkan saya untuk memutar memori lama. Teringat masa ketika berseragam SMA. Ketika itu jerawat sedang subur- suburnya. Ketika itu bau badan menjadi masalah utama diantara kita, ya ketika kenangan indah itu kembali memenuhi isi kepala. Masa – masa awal ketika berkiprah di Assalam.

Pada gilirannya menjadi almamater kebanggaan, hingga saat ini, hingga detik ini. Kebanggaan itu muncul bukan karena prestasi, atau sekedar unjuk eksistensi. Kebanggaan itu disebabkan oleh hadirnya orang – orang besar untuk kerja – kerja besar.

Saya tidak perlu malu untuk menceritakan kepada antum bahwa di kepengurusan saya dahulu tidak lebih baik dari kepengurusan sekarang. Kepengurusan dahulu diawali oleh 50 orang yang terdata dan di akhiri hanya dengan beberapa yang tersisa, bisa dihitung dengan jari saja. Keluhan disetiap rapat selalu sama, diwakili oleh kata 4 L ( Lu Lagi Lu Lagi). Ditengah jalan, kesabaran itu pun mulai di uji.

Jumlah yang sedikit dituntut harus mampu mengemban tugas – tugas yang banyak. Belum lagi sebagian besar sudah memasuki kelas 3 SMA, tugas – tugas sekolah bergentayangan, ada juga yang disibukkan oleh les harian, keterbatasan beraktifitas dari orang tua juga mulai dirasakan. Begitulah sunnatullah, setiap generasi pasti akan mengalaminya sebagaimana firman:

“Apakah Ia mengira bahwa dia dibiarkan saja mangatakan “ Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji” (QS. 29:2)

Pernah ada masa, cerita tentang dua orang akh. Yang satu sebagai ketua dan satunya lagi diamanahkan sebagai sekum. Mereka berniat untuk menghimpun kembali pengurusnya yang sudah berserak. Lebaran 2006 ketika itu, mereka manfaatkan untuk mengunjungi nama – nama yang tertera di daftar kepengurusan. Hanya bermodal motor butut dan uang receh dari tabungan uang jajan, mereka beranikan diri untuk keliling kota Padang.

Harus berpanas – panas, kemudian berhujan – hujan. Sembari di atas motor bercerita, bertukar pikiran, membangun impian. “akh, suatu ketika kita akan punya sekre 4 lantai ya, yang ada lift nya” sahut salah seorang yang diboncengi. Dengan senyum menggigil akh yang mengendarai motor menjawab “iya, kalau bisa punya mobil operasionalnya juga”, “di depan kantor ada resepsionisnya”. Impian ini menguat seiring seringnya kepengurusan mereka berpindah – pindah rapat karena tidak punya sekre. Demikianlah cara mereka membangun keoptimisan ditengah rasa pesimis yang menghantui.

Pernah juga saya mengenal sosok seorang akh yang begitu istiqomah. Beliau bukanlah dari kalangan keluarga yang berada. Rumahnya begitu jauh di perbatasan kota. Kendaraan juga tidak punya. Setiap hari uang jajan yang diterima juga seadanya. Padahal, aktifitas harian di Assalam menuntut beliau harus mobile ke berbagai tempat. Menarik bagi saya untuk mencari tahu bagaimana cara beliau mengatasi kondisi tersebut dan mampu hadir hampir disetiap pertemuan dan acara. Ketika ditanya “Akh gimana ongkos antum untuk rapat dan setiap kali kita acara ?”.

Dengan sedikit malu – malu beliau menjawab “Ana selalu kumpulin uang jajan pagi untuk itu bang”. “Terus antum nggak sarapan pagi” timpal ku. “Biasanya ana masak sendiri dari bahan seadanya di kulkas, terkadang kalau cuma ada nasi, bawang dan garam, ana masak nasi goreng, ya seperti itulah setiap hari”. Saya mengangguk dan kembali bertanya “Terus kesini naik angkot apa, kan jauh dari rumah ke sekre ?” “Pasti beberapa kali naik mobil untuk bisa sampai kesini”.

Beliau menunduk dan menghela nafas, kemudian menjawab “Ana biasanya turun di pasar bang, terus jalan kaki ke sekre”. “Masya Allah, apa nggak jauh tuh, kenapa nggak naik angkot saja ke sekrenya ?” tanya ku. dengan mimik wajah meyakinkan beliau menimpali “ah..nggak jauh juga kok bang, hitung – hitung olahraga, lagian biar hemat, kan kebutuhan da’wah kita juga besar”. Di dalam hati saya hanya bisa berdo’a, semoga Allah SWT memberikan keistiqomahan dan kebahagiaan kepada beliau di dunia dan akhirat dengan perantara semangat berkorbannya.
Ada lagi kisah tentang seorang akh yang persis sama.

Menarik ketika kita menyimak cerita beliau setiap kali pulang halaqoh. Suatu ketika beliau pernah ditanya jam berapa beliau sampai dirumah selepas halaqoh. Kami terkejut dengan jawabannya. Beliau sampai dirumah kira – kira pukul 11 – 12 malam, padahal kami selalu selesai pulang halaqoh pukul 10 malam. Selidik – punya selidik, ternyata beliau menggunakan waktu 1 – 2 jam itu untuk jalan kaki dari lokasi halaqoh ke rumahnya. Begitulah kecintaan beliau terhadap tarbiyah, sehingga kondisi demikian tidak membuat beliau surut untuk datang halaqoh kembali.
Belum lagi cerita dari beberapa akhwat.

Suatu ketika dalam episode kepanitiaan di Assalam, acara tersebut tidak cukup sukses karena kondisi keuangan yang minus. Tibalah pada hari yang sudah direncanakan untuk acara tersebut. Sementara kondisi keuangan minus itu belum juga teratasi. Tiba – tiba saja ada akhwat yang bilang bahwa uang untuk konsumsi dan kebutuhan lainnya sudah ada. Beliau meminta ikhwah yang lain tidak perlu khawatir dan fokus pada tugas masing – masing di kepanitiaan. Awalnya tidak ada kecurigaan apapun dari asal usul uang tersebut. Tapi, betapa terkejutnya kebanyakan panitia ketika rapat evaluasi.

Ternyata hutang – hutang kepanitiaan itu ditutupi dengan menggadaikan cincin dan kalung emas milik salah seorang akhwat. Luar biasa semangat berkorban yang beliau miliki, sampai membuat kita bertanya – tanya, pemahaman seperti apa yang beliau miliki sehingga dengan mudahnya memberikan pengorbanan yang demikian ?. Terlepas dari tidak baiknya strategi pendanaan kepanitiaan ketika itu, ternyata Allah ingin menyingkapkan kepada kita bahwa da’wah-Nya ini akan senantiasa di isi oleh orang – orang yang siap membelanya, rela berkorban deminya, dan selalu menyediakan semangat untuk memuliakannya. Untuk antum yang merasakan kondisi demikian, Allah SWT hendak menggembirakan antum dengan firman-Nya:
Niscaya Allah mengampuni dosa – dosamu dan memasukkan engkau ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai – sungai, dan ke tempat tinggal terbaik, surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung. Dan ada lagi doorprize lain yang kamu sukai yaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat waktunya. Dan sampaikanlah berita gembira ini kepada orang – orang mukmin (61:12 – 13).
Ternyata memang benar. Sedikit – demi sedikit kerja – kerja kader yang ikhlas ini dibalas oleh Allah SWT. tidak perlu menunggu di akhirat dulu. Allah langsung realisasikan janji – janjinya di dunia. Doorprize yang Allah bayarkan itu terlihat dari prestasi – prestasi yang didapatkan oleh kader – kader Assalam. Diantaranya, ada yang diberi kesempatan menikmati suasana perkuliahan di Mesir, Inggris, Yaman, Korea, India, Italia, Jerman, dan lain sebagainya.

Tak sedikit juga diantara mereka yang juara kelas dan juara di berbagai ajang dan lomba. Insya Allah, kita yang masih bekerja untuk da’wah hari ini sedang menunggu giliran kita. Caranya cukup sederhana, minta Allah untuk menyertai kita dalam menghadapi tantangan hidup ini. Hidup dibersamai-Nya, bekerja demi da’wah-Nya, dan menuju surga-Nya, Amiin.

Share

Tia Aklima

BERSYIAR ISLAM MELALUI MEDIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *