Hidayah (Part 1) – Hidayah itu cari, bukan cuma ditunggu!!

(sumber foto : www.tausyah.wordpress.com)

 

Allahu Akbar… Allaaaahu Akbar….
“Teman-teman.. udah azan, sholat yuk!!”, aku segera bereskan buku dan barang-barang lainnya yang bertebaran dan memasukkannya tas. Sebelum hendak keluar dari kelas bersama teman lain, aku mengajak satu orang teman yang tampak belum juga ada tanda-tanda pergerakan.

“Teman, sholat yuk, udah azan. Kita bareng aja.”
“Duluan aja, aku ngga sholat, hidayah belum datang soalnya.”

WHATT??!! parah nih orang (dalam hati)

“Waaah, kamu hati-hati kalau ngomong gitu, emang kalau kamu duduk aja hidayah bakal datang? Hidayah itu datangnya karna dicari saudaraku, bukan cuma ditunggu.”

Ya Allah, tolong lah hamba dan saudara-saudara hamba (dalam hati)

Ada lagi cerita yang lumrah kita dengar di kehidupan sehari-hari, yaitu tentang memakai hijab. Ketika kita tanya saudara, teman, atau tetangga kita kenapa tidak memakai hijab. Ada yang menjawab dengan kesan bercanda, “Hatinya dulu dihijabin, baru kepala”. Nah! Na’uzubillah, padahal Allah menjanjikan siska yang amat pedit bagi orang yang tidak menutup auratnya. Apalagi yang bagi yang tidak sholat.

Masih banyak lagi cerita-cerita tentang orang-orang yang hanya menunggu datangnya hidayah, tanpa berusaha untuk mendapatkannya. Sebenarnya kenapa sih hidayah itu harus dicari?

Ada kisah tentang seorang pencari hidayah (saya sebut begitu), walau awalnya dia tidak menghendaki hidayah itu datang, tapi karna Allah SWT yang menghendaki mereka untuk mendapat hidayah, maka beradalah mereka di jalan Allah. Beliau Arnound Van D, seorang penasehat politik salah satu partai anti-Islam di Belanda.

Beliau bersama organisasinya, awalnya mempunyai misi untuk menjelekkan Islam dengan salah satunya mengemparkan dunia dengan sebuah film yang sangat menghina umat Islam, film tersebut berjudul “Fitna” bukan hanya menghina umat Islam akan tetapi dalam film tersebut juga menghina Nabi Muhammad dan kitab suci AL-Qur’an.

Tapi kemudian ada seorang teman muslimnya mengingatkan untuk mencari tahu tentang Islam dengan bertemu langsung dengan salah satu Imam di mesjid di negaranya. Bahkan temannya tersebut sudah menyusun janji pertemuan mereka dengan Imam tersebut. Tentunya beliau tidak mau, karna dulu beliau pikir mesjid itu adalah sarangnya penjahat, terroris, dan sangat berbahaya. Tetapi setelah dijanjikan aman oleh temannya tersebut, beliau mau pergi ke mesjid.

Setelah pertemuan pertama, beliau merasakan ada yang aneh dengan dirinya, dan mulailah tumbuh keraguan dengan apa yang sedang diperjuangkannya saat itu. Tapi kemudian beliau mencoba menyangkalnya dengan menyangka bahwa beliau sedang di brain washing, dan saat itu memutuskan untuk pertama dan yang terakhir kalinya untuk pergi ke mesjid.

Waktu berlalu dan secuil keraguan masih bersemayan di dalam hati dan pikirannya yang tidak bisa hilang-hilang bagaimapun beliau memaksanya. Lalu beliau memutuskan untuk kembali lagi ke mesjid tersebut dengan tujuan untuk memastikan bahwa Islam tersebut salah dan dia lah yang benar. Tapi setelah itu apa yang didapatkannya? Secuil keraguan tadi bertambah besar dan semakin besar seiring dengan seringnya pertemuan-pertemuannya untuk mengenal Islam. Tanpa beliau sadari, beliau sedang menempuh perjuangan menemukan hidayah Allah dan memutuskan untuk menjadi muallaf setelah merasa hidupnya kehilangan arah dan melihat betapa indahnya agama Islam.

Lihat beliau setelah menjadi muallaf, beliau menyerahkan seluruh hidupnya dengan memperjuangkan Islam, salah satunya dengan membuat organisasi Islam dan membantu para muslim dan non muslim baik itu di negaranya atau di luar, dan juga membantu non muslim untuk mempelajari tentang Islam yang sebenarnya.

Dari cerita diatas, salah satu point yang bisa di ambil yaitu perjuangannya mencari hidayah meski tanpa disadarinya. Namun kita yang sebagai seorang muslim sejak lahir ataupun dari 7 turunan misalnya, kita tinggal menjalaninya dan memperkuat keyakinan kita pada Allah. Namun, orang bisa saja mengatakan hal tersebut tidaklah mudah, karna Allah lah yang memberikan hidayah kepada orang-orang yang dikehendakiNya. Memang benar, tapi kita ingin tahu siapa sih orang-orang tersebut? Yaitu orang yang berusaha mencari dan mendapatkannya.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.Ar-Ra’d:11)

Namun, jika kita masih menemukan saudara-saudara kita yang masih saja cuma menunggu hidayah, disinilah peran kita dalam perjuangan dakwah, untuk menjadi seperti temannya Arnoud Van D tadi yang mengingatkan Arnoud untuk mencari informasi tentang Islam dengan benar. Kita ingatkan saudara-saudara kita yang masih belum mendapatkan hidayah. Dan membawa mereka pada “titik balik” kehidupan mereka sebelum mereka mendapatkan masa “titik balik” yang tidak terduga.

Selanjutnya, tentang “titik balik” akan dibahas di part 2.

(Nifahalim)

Share

Tia Aklima

BERSYIAR ISLAM MELALUI MEDIA

2 tanggapan untuk “Hidayah (Part 1) – Hidayah itu cari, bukan cuma ditunggu!!

  • Maret 2, 2018 pada 3:18 pm
    Permalink

    Dan jangan lupa selalu memohon kan doa
    Rabbighfirli warhamni wajiburni warafakni warzuqni wahdini wa ‘fini wa’fu ‘anni.
    ( with keep your Sholah )

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *