Indahnya Ramadhan di Negara Turki

Asmed – Letak geografis negara Turki yang unik berada diantara dua benua, yakni benua Asia Barat Daya dan benua Eropa berpengaruh besar terhadap pola hidup muslim Turki ketika ramadhan tiba. Semarak gegap gempita penyambutan Ramadhan tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, tetapi sebagian anak-anak di Turki pun ikut berpuasa Ramadhan.

Nuansa Ramadhan di negara Turki, berbeda dengan negara lainnya di Eropa maupun Asia. Ketika tiba bulan Ramadhan masyarakat Turki antusias menyambut ramadhan dengan memasang aneka hiasan lampu di masjid atau menghias rumah dengan beragam ornamen serta merapikan kampung, atau lebih dikenal dengan tradisi Mayha yang telah digelar sejak era kesultanan Utsmani (terutama masa Sultan Ahmad 1 1603-1617). Tradisi Mayha diera Ahmad 1 masih memakai lampu minyak dengan aneka bentuk unik seperti pesawat atau bentuk mawar yang dipasang di menara masjid, namun kini tradisi Mayha digelar dengan memasang beragam  bola lampu yang dihiasi kalimat pesan berkaitan bulan Ramadhan. Lampu tersebut dipasang diseluruh masjid dan sepanjang jalan negara Turki sehingga menjadi pesta cahaya Ramadhan di langit Turki.

Ramadhan di Turki menjadi sangat berbeda dengan keunikan-keunikan yang mungkin tidak kita dapatkan di Indonesia. Yuk simak berbagai hal menarik yang akan kamu temui di negara asal makanan kebab ini :

1. Perbedaan waktu

Sama seperti negara-negara Eropa lainnya, ramadhan di Turki tepat datang pada musim panas yang menjadikan hari-hari lebih panjang dari pada malam. Perbedaan waktu ini membuat waktu berpuasa lebih panjang dibanding di Indonesia yang hanya 14 jam. Imsak di Turki dimulai pada pukul 03:30 dan berbuka pada pukul 21:00.

2. Sahur

Tidak jauh berbeda dari Indonesia yang selalu memperdengarkan beduk ketika sahur, di Turki sendiri menjelang sahur akan terdengar suara pukulan davul (alat musik jenis drum) yang dimainkan oleh davulcu yang berkeliling memasuki lorong-lorong jalan. Hanya saja tanpa suara anak-anak seperti di Indonesia yang meneriakkan kata “sahur”.

3. Iftar

Iftar di Turki mungkin tidak semeriah di Indonesia dengan tradisi “ngabuburit” dan jalanan yang dipenuhi oleh penjual ta’jil berbuka. Namun kamu akan merasakan “kebanjiran undangan berbuka” dari orang-orang Turki. Sifat dermawan dan suka bersedekah ini sangat populer di Turki. Sehingga berbuka puasa di Turki berarti berlomba-lomba memberi makanan untuk orang yang berpuasa. Memberi makanan berbuka ini juga disediakan oleh pemerintah kepada seluruh golongan masyarakat pada jadwal-jadwal tertentu.

4. Makanan berbuka

Yang paling berbeda dari Indonesia, Turki punya tiga tahapan makanan pembuka. Setelah disuguhi makanan jenis berat seperti çorba, kebab, nasi, aneka olahan roti, salata, dan minuman pendukung sejenis ayran, jus, dan air mineral. Tahapan kedua kamu akan dimanjakan oleh kue-kue manis seperti baklava, künefe, kadayıf, ice cream, atau jenis kue-kue kering yang berpasangan dengan teh. Budaya “nge-çay” tak pernah bisa jauh dari orang-orang Turki. Dan tahapan terakhir, buah-buahan segar sebagai pencuci mulut.

5. Keunikan masjid, tarawih, dan witir

Seperti di Indonesia, masjid-masjid di Turki juga selalu penuh ketika bulan Ramadhan. Yang sangat menarik disini, menara yang menjadi ciri khas masjid-masjid Turki selalu meyala setiap malam bulan Ramadhan. Pada bulan lainnya lampu menara hanya akan menyala khusus pada malam jumat. Disertai pembacaan shalawat sebelum azan isya dan subuh. Diantara tiang menara juga biasanya dipasangkan tulisan penyambutan akan bulan ramadhan yang dipasang selama 30 hari dan menyala pada malamnya. Tarawih dan witir dilaksanakan berjamaah di masjid-masjid. Biasanya dilaksanakan 23 rakaat dengan witir, pembacaan surah Al-Fatihah secara satu nafas dilanjutkan satu sampai dua ayat dari surah-surah panjang setiap rakaatnya. Atau surah-surah pendek dengan satu nafas pula.

6. Mukabele

Mukabele yang berarti pertemuan untuk bertadarus Al-Quran. Jika di Indonesia tadarus hanya dilakukan oleh kelompok laki-laki atau ibu-ibu di masjid pada malam hari dan subuh, di Turki mukabele dilakukan oleh kelompok ibu-ibu di rumah-rumah pada pagi sampai siang hari. Namun kelompok laki-laki juga melakukannya pada malam hari di masjid.

7. Penyambutan malam Lailatul Qadar

Di turki, malam Lailatul Qadar sudah ditentukan jatuh pada malam tetentu dengan memakai cara perhitungan tersendiri. Sehingga penyambutan khusus dilakukan dengan mendirikan qiyamul-lail pada malam tersebut dan diisi dengan shalat tasbih, kajian, tadarus al-quran, dan zikir sampai pagi.
Hal yang menariknya, hanya di negara sekuler ini kamu bisa menemukan pemilik restoran yang berpuasa namun tetap membuka restorannya, dan juga pelayan yang berpuasa namun tetap melayani pelanggannya. Hanya di negara sekuler ini kamu bisa melihat peminum bir kadang berpapasan satu meja dengan muslim yang sedang berbuka puasa. Hanya di Negara sekuler ini juga kamu bisa melihat orang-orang yang tidak puasa bahkan non muslim bersedekah memberikan makanan kepada orang yang berpuasa di bulan ramadhan. Sangat menarik bukan ?

Sumber : http://www.kompasiana.com

Ranji Landrito / Tim Penulis – Asmed

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *