Ingatkan Diri Ini Wahai Sahabat

Ada sahabat di dunia ini yang bila kita bersama dengannya, seringkali mengingatkan kita untuk lebih dekat dengan Allah. Mulutnya mungkin tidak pernah berbunyi ataupun berbicara tentang Allah di depan kita. Namun, amal dan akhlaknya menjadi bicara yang paling mengesani hati kita.

Melihat dirinya, membuatkan kita merasa perlu segera bertaubat dan mengubah diri kita.

Bergaul dengan dirinya membuatkan kita terasa perlu lebih membaiki sikap dan akhlak kita.

Tertampak dirinya melakukan kebaikan, sudah menyebabkan kita terdorong untuk ikut sama melakukannya.

Inilah ciri sahabat yang sebenar, yang mampu menjadi cerminan kepada sahabatnya yang lain, walaupun dengan jarang berbicara.

“Makah aku kabarkan sebaik-baik orang dalam kalangan kamu?” tanya baginda Muhammad kepada para sahabat di depannya.
“(Sebaik-baik orang dalam kalangan kamu) adalah yang mengingatkan kamu kepada Allah bila kamu melihatnya. Yang dapat menambah amal kamu bila ia berbicara. Yang mengingatkan kita kepada hari akhirat dengan amal-amalnya.”

Demikian hadis diriwayatkan oleh Abi Dunya dalam kitabnya, Al-Awliya melalui riwayat Ibn Abbas.

Persahabatan atau persaudaraan itu mengandungi nilai dan makna yang besar sehingga Allah mengaitkannya dengan keimanan. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang beriman itu bersaudara…” (QS Al-Hujurat: 10)

Sedemikian besar nilai ukhuwah yang menjadi asas penting dalam kehidupan bermasyarakat, justru menyebabkan ia mempunyai kaitan rapat dengan iman. Orang yang bagus imannya, sepatutnya bagus juga hubungannya dengan sahabatnya. Dia berusaha menjadi sahabat yang baik, memenuhi hak sebagai sahabat, menjaga aib dan maruah sahabatnya serta selalu pula mahu bersama berjuang di atas jalan kebenaran.

“Perumpamaan orang mukmin itu dalam berkasih sayang dan saling mencintai…” sabda Nabi SAW, “…adalah seperti batang tubuh. Apabila salah satu anggota tubuhnya berasa sakit, maka anggota tubuh yang lain pun akan merasa sakit.” (Muttafaq Alaihi)

Ketika dia bercakap dengan sahabatnya, dia berusaha bercakap dengan cara terbaik dan bahasa yang elok agar tidak menyakiti sahabatnya. Ketika dia bergaul, dia tidak mementingkan haknya semata-mata, tetapi mengambil berat juga akan keperluan sahabatnya.

Persahabatan yang berdiri atas asas keduniaan semata-mata, ia tidak akan kekal dan bertahan lama. Persahabatan atas dasar kampus, kampus akan ditinggalkan. Persahabatan atas keseronokan dan gelak tawa semata-mata, tidak akan membawa kita ke mana-mana. Persahabatan atas harta dan kedudukan hanya akan melahirkan lebih ramai orang yang mempunyai hasad dan busuk jiwanya. Hilang harta, maka hilanglah hubungan persahabatannya.

ASSALAM SUMBAR

Sebab itu, kita perlu sentiasa melihat apakah yang kita isi di dalam persahabatan kita. Yang kita isi di dalam persahabatan kita itulah yang menentukan nilai persahabatan itu kecil atau besar.

Hubungan ukhuwah, persahabatan atau persaudaraan ini tidak akan menjadi sesuatu yang bernilai kecuali jika kita ikat di atas jalan iman kepada Allah. Kerana asas lain selain iman tidak akan mampu menjadi pasak yang teguh untuk memelihara kesinambungan ukhuwah, kejujuran dalam bersahabat.

Sebab itu Allah berfirman: “Teman-teman rapat pada hari itu sebahagian mereka menjadi musuh kepada sebahagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS Az-Zukhruf: 67)

Di jalan taqwa, kita berusaha menjadi sahabat terbaik kepada saudara-saudara kita. Menjadi sahabat terbaik adalah dengan mula memperbaiki diri dengan Allah, agar di saat kita bersahabat, kita tak terjerumus mempengaruhi orang lain ke arah yang Allah tidak sukai, bahkan mampu menjadi cerminan mithali pula kepada mereka.

Di jalan taqwa, kita dekap sahabat kita seeratnya bila bertemu dan berpisah dengannya serta tulus melafazkan padanya, “Aku cinta engkau kerana Allah.” Cinta di atas jalan Allah mengingatkan kita bahawa ada hak-haknya yang perlu kita tunaikan, ada had dan batas dirinya yang menjadi sempadan.

Di jalan taqwa, kita harus saling mengingatkan dan memberi nasihat, kerana hubungan persahabatan yang berdiri atas semata-mata rasa mau berhibur dan gelak tawa saja tidaklah bermakna apa. Memberi pesanan ke arah kebenaran dan dengan kesabaran, demikianlah Allah menggambarkan sifat orang mukmin yang tidak rugi.

ASSALAM SUMBAR

Mari didik diri kita menjadi seorang mukmin sebagaimana apa yang telah disabdakan oleh Nabi SAW agar keberadaan kita menjadi bermanfaat, kata-kata kita menjadi bernilai walau sesaat serta amal-amal kita mampu langsung menggerakkan orang-orang di sekeliling kita untuk kembali kepada Allah.

Jangan sampai keberadaan kita mengundang celaka pada orang, kata-kata yang keluar dari mulut kita hanyalah memenuhi telinga dan nafsu semata-mata sehingga menyakitkan orang, dan amal kita pula terlalu lemah sehingga tak mampu menjadi contoh yang boleh menggerakkan manusia kembali kepada Allah.

Mari jadi peribadi yang menginspirasi dunia dalam masa yang sama membaiki masa depan akhirat!

Sumber: langitilahi.com/14790/

Share

Rahmat Irfan Denas

jalan-jalan~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *