Inilah 10 Alasan Kenapa Meminta Ijin Itu Penting

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh Pemipin Redaksi @iqbalsuranta

Aktivitas organisasi seperti rapat, maupun kegiatan yang melibatkan kerja sama seringkali menimbulkan masalah-masalah sepele seperti ketidakhadiran. Khususnya bagi kita yang terbiasa mengabaikan untuk meminta ijin terlebih dahulu kepada pimpinan atau ketua. Muaranya seringkali menyebabkan prasangka antar pengurus dan kekesalan. Seperti apa idealnya seorang muslim dalam meminta ijin? Yuk baca tulisan dibawah ini.

  1. Al Adaabul Isti’dzan,  Perintah beradab dalam meminta ijin. Justru turun se waktu pra momentum Al Ahzab atau Khandaq. Perang Parit, begitu familiarnya. Adalah An-Nur Ayat 62 :

 

“..Yang disebut orang mu’min hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya. Apabila mereka berada bersama sama dengan dia (Muhammad) dalam suatu urusan bersama, mereka tidak meninggalkan  Rasulullah sebelum meminta ijin kepadanya….”

 

“..Sungguh Orang-orang yang meminta ijin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Rasulnya…”

 

2. Uniknya. Adab ini justru diwahyukan saat kondisi sedang darurat, Pengepungan Madinah sudah direncanakan. Musuh seperti Quraisy, Kabilah Gatafan atas inisiatif Yahudi Khaibar menjadi Aliansi 10.000 pasukan kira-kira.

 

3. Sementara kaum muslimin? hanya sekitar 5000 an. Itu sudah total orang tua, wanita dan anak-anak2, jelas dalam kondisi sulit. Belum lagi stok logistik terbatas. Dikatakan banyak yang menahan lapar, bahkan Rasul harus mengikat perutnya. So, Saat apa yang lebih darurat dari perang?

 

4. Poin Unik yang kedua. Ibarat guncangan saat menyaring pasir. Ia selalu memisahkan batu-batu pilihan dengan pasir2 halus.  Momentum kritis seperti perang, justru sangat tepat untuk melihat secara terang.

 

5. Mana Mu’min. yang memilih jalan taqwa nan sulit dan terjal. dan Mana munafiq, yang memilih jalan nafsunya pribadi, yang diam-diam lalu mangkir tanpa berita, mengurung diri dalam kondisi aman dan nyaman.

 

6. Maka hari ini kita sedarurat apa ? Perang ? Tidak. Justru indonesia hari ini terbilang paling aman. Harapan akan kebangkitan islam, justru ditumpangkan kaum muslimin dunia pada negeri ini

 

7. Maka apa yang membuat kita enggan untuk meminta ijin pada pimpinan kita ? Kalau udzhur syar’i. Seperti akademis. Birrul Walidain. Darurat? Sampaikanlah. Bukankah meminimalisir pra-sangka itu adalah lebih utama ? Jangan membuka celah. Beban umat ini sudah banyak.  Jangan kita yang satu jadi beban bagi yang lain.

 

8. Untuk yang dipinta ijinnya. Cek & ricek keperluan saudaramu apa. Kita berhak tau. Dalam At-Taubah ayat 43.  Rasul pernah ditegur Allah, karena mengijinkan beberapa orang saat penggalian parit kala itu.

 

“..Allah memaafkanmu Muhammad. Mengapa engkau memberi ijin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang) sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar benar berhalangan dan sebelum engkau mengetahui orang orang yang berdusta ?”

 

9. Mohonkan ampunan untuk si peminta ijin, sebab ia meninggalkan kewajiban yang seharusnya ditunaikan. Ini poin akhir yang menutup An-Nur ayat 62. Nasihat ini semoga jadi perbaikan bagi yang menulis maupun sahabat pembaca.

 

10. Jangan sepelekan lagi, Mampu memenuhi adab dalam meminta ijin adalah bukti kerja iman yang semakin baik. Hijrah adalah proses sepanjang hidup. Segera padamkan potensi kemunafiqan bila terasa tengah tumbuh, sebelum ia menjadi kanker yang menggerogoti kita utuh.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *