Jilbab lebar dan Anak ustadz

Aku adalah seorang mahasiswi di kampus ternama di pulau tempatku tinggal. Aku adalah seorang muslimah yang sedang hijrah. Dan satu hal yang tak luput dari hidup adalah ujian. Ya,ujian hijrah kerapkali melandaku.

Perjalanan hijrahku dimulai setelah kejadian gempa 30 September 2009 silam. Gempa yang memporak-porandakan wilayahku ini. Sungguh itu adalah yang paling menakutkan bagiku setelah tsunami diaceh dan gempa di Yogya. Berita mengenai kematianpun heboh dimana-mana, bahkan yang menjadi buah bibir oleh masyarakat adalah mereka yang meninggal dunia dan yang selamat dari musibah tersebut. Keadaan mayat yang ditemukan tanpa busana di beberapa tempat terutama dihotel membuat saya berpikir mengenai kematian. Apakah saya akan mati seperti mereka, atau akan lebih menyedihkan lagi. Sungguh itu keadaan yang tidak diinginkan oleh siapapun. Dari sekian banyak berita menakutkan ada juga berita yang menakjubkan, seorang bayi yang masih hidup ketika berada ditengah-tengah reruntuhan bangunan, seseorang yang selamat meski sudah 3 hari dibawah reruntuhan. MasyaAllah, sungguh Allah memperlihatkan KuasaNya saat itu.

Sejak saat itu aku mulai memantapkan diri untuk berhijrah, ingin menjadi lebih baik lagi. Karena aku tidak ingin mati dalam keadaan hina. Saat memasuki jenjang sekolah menengah atas aku mulai mengikuti kegiatan ROHIS di sekolah. Alhamdulillah aku menemukan saudara seperjuangan denganku. Tiga tahun di SMA tidak menjadi hal yang berat bagiku dalam menjani hijrahku ini. Sekolahku termasuk sekolah yang peduli akan kegiatan keagamaan, sehingga tidak menjadi berat bagiku dalam berhijrah. Sekolah yang hampir 70% diisi oleh wanita memudahkanku dalam berinteraksi sehingga volume interaksi dengan lawan jenis bisa diminimalisir. SMA adalah masa dimana aku tidak begitu sulit dalam berhijrah, lingkungan sangat mendukung waktu itu.

 

Setelah lulus SMA aku melanjutkan kuliah dijurusan yang hampir semua muslimah menghindarinya. Aku berada dalam lingkungan yang sangat bertolak belakang dengan lingkunganku diwaktu SMA. Jika di SMA hampir 70% adalah

 

 

perempuan , sedangkan disini hampir 85% adalah laki-laki. Bisa dibayangkan bagaimana aku menjadi orang yang asing disini. Interaksi mereka yang bebas antara satu sama lain membuatku ingin lari dari keadaan ini. Di tahun pertama aku bisa dikatakan stress akan lingkunganku. Karena tidak ada yang bisa memahamiku sama sekali, bagi mereka aku terlalu sangat berbeda. Bahkan ada yang mengatakanku adalah Islam fanatik disebabkan jilbabku yang dalam daripada perempuan yang lain dan aku tidak ingin berbagi air minum digelas yang sama dengan laki-laki. Suatu ketika aku pernah ditanyakan mengapa tidak kuliah di universitas islam saja, karena bagi mereka aku tidak bisa sama dengan mereka. Aku memang tidak akan pernah sama dengan mereka sampai Allah mengizinkan kami untuk sama.

 

Aku kuliah dijurusan yang menjunjung tinggi solidaritas dan rasa kerbersamaan, tapi itu semua tidak dalam konteks islam. Bagi mereka duduk berdua berdempetan antara laki-laki dan perempuan adalah biasa, berbagi makanan dengan gigitan yang sama adalah rasa persaudaraan, dan mengantarkan perempuan ke rumah setelah kegiatan adalah hal biasa bagi seorang laki-laki ataupun perempuan. Sungguh sangat berbeda prinsip yang aku pegang, sehingga aku sering jalan sendiri hampir kesetiap tempat yang aku tuju. Bagiku tidak ada alasan untuk bergantung kepada mereka meminta diantar kesana-kemari, bagiku tidak ada alasan untuk menyusahkan oranglain selagi urusan itu masih bisa aku selesaikan. Bahkan demi prinsip islam yang kini aku pegang, jalan antar gedung kuliah yang berjarak hampir 1 km setiap hari bukanlah masalah bagiku. Jalan mendaki yang dipenuhi anak tangga serta dibawah terik matahari pun sudah menjadi makanan sehari-hari.

Sampai pada satu titik, aku mulai lelah, kesehatanku mulai menurun, aku masih tetap menjadi orang asing di lingkunganku. Bahkan seniorku sudah mulai mengintervensi jilbabku. Oh iya, aku kuliah ditempat yang menjunjung tinggi senioritas. Satu tahun awal adalah tahun dibina oleh senior sehingga Aku dan teman-teman seangkatan denganku harus mematuhi segala peraturannya. Pakaian, cara berbicara, bagaimana harus pergi semua diatur oleh seniorku. Termasuk bagaimana harus berjilbab. Peraturan awal yang Aku pahami adalah kami tidak boleh memakai jilbab yang tidak menutupi dada. Aku tentu senang mendengar peraturan ini, siapa yang tidak senang melihat saudaranya berjilbab dengan baik dan dapat membantu para laki-laki yang banyak dijurusanku untuk menjaga pandangan.

Ternyata tidak cukup sampai disitu saja peraturan tentang jilbab. Jilbab kami tidak boleh diberi pentul dibahu, atau di sampingkan kebahu meski sudah menutup dada. Jilbab menutupi dada dengan cara membiakan ujung jilbab lepas kebawah dan dipentul dibagian tengah dekat dada agar sisi kanan dan kiri jilbab terhubung. Peraturan inilah yang mengawaliku menajadi orang yang sangat asing hingga Kedua orangtuaku dipertanyakan. Aku terbiasa memakai jilbab yang menjulur hingga ke dada. Yap, benar, aku melanggar aturan seniorku. Aku diminta harus seperti teman-temanku yang lainnya. Ketika itu jilbabku dibanding-bandingkan dengan muslimah yang lain yang juga merupakan seniorku yang juga sedang hijrah. Kami memang sama-sama hijrah, namun satu hal yang mereka lupa, hijrah seseorang juga akan mempengaruhi tingkat pemahaman agamanya, sehingga akan mempengaruhi cara dia bergaul dan berpakaian.

Permintaan seniorku tidak aku laksanakan, saat itu aku memilih diam. Aku berfikir tidak ada gunanya membalas perkataan seniorku ketika mereka bersama bahkan teman angkatanku pun ikut menyalahkanku kecuali beberapa teman dekatku yang biasa mengerjakan tugas bersamaku. Aku tak ingin mempermalukan dia sebagai seniorku. Aku menghormatinya, karena aku paham bagaimana rasanya ketika kita tidak dihargai oleh orang lain. Karena terlalu dipermasalahkan saat itu juga aku menangis. Aku tidak ingin membalas dia, aku tidak ingin berdebat dengannya yang aku yakin ketika aku berdebat maka, akan ada yang tersakiti dan aku rasa dia yang akan tersakiti terlebih dahulu.

Diamku bukan menjadi alasan dia untuk berhenti memintaku. Saat itu aku mulai merasa bahwa aku harus memperjelas prinsipku, aku sangat bersedia untuk keluar dari kegiatan ini walaupun aku harus kembali terasing bahkan akan lebih asing lagi. Bagiku tidak masalah, aku selalu ingat perkataan Rasulullah “ Islam datang dalam keadaan asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntung orang yang asing “ (HR.Muslim). Aku ingin menjadi orang yang beruntung itu.

Dua hari   setelah  itu   aku   menemui   kembali   seniorku   ,  aku   mencoba menjelaskan bagaimana prinsipku, bagaimana kewajiban seorang muslimah. Sebelum aku memulai menjelaskan, apa yang dia tanya terhadapku “Orangtuamu ustadz dan ustadzah kah?” begitu katanya. Astaghfirullah, bahkan baginya aku harus terlahir dari orangtua seorang ustadz dan ustadzah baru dibolehkan memakai jilbab lebar. Sungguh pemikiran yang sangat tidak logis sekali. Salahkah aku menjalankan perintah Tuhanku? Tidak bolehkah aku menjalankan perintah-NYA karena bukan anak seorang ustadz?. Bahkan aku tidak pernah belajar disekolah agama. Sekolahku umum semuanya. Tapi, Allah izinkan aku untuk menapaki jalan ini. Aku mencoba sabar menjelaskannya, bahkan aku jelaskan mengapa aku melampis jilbabku ini. Namun, aku bukanlah anak ustadz yang bisa langsung diberi izin. Dia bahkan mengancamku, jika aku tidak mau sama dengan teman-temanku yang lain silahkan saja menerima konsekuensinya. Bahkan dia juga akan membuat teman-temanku bermasalah. Aku hanya bisa menangis dalam diam, bahkan dadaku ini sudah sesak sekali dihadapannya. Aku memilih kembali mengalah, aku izin padanya untuk pergi. Tekadku telah bulat, bagiku agamaku adalah hidup matiku. Aku rela untuk menjadi asing bahkan keluar dari jurusan ini.

Tidak lama setelah itu aku berlalu menuju laboratorium, disana aku bertemu seniorku lagi. Kalau yang tadi mempertanyakan orangtuaku adalah perempuan yang ini adalah laki-laki. Dia mengatakan aku akan dikucilkan jika tidak mau mengikuti aturan. Aku dengan lantangnya mengatakan aku tidak takut dan siap untuk itu. Aku semakin ditanya mengenai jilbab ini. Coba bayangkan siapa yang akan tahan ditanyai oleh seorang laki-laki mengenai pakaian yang sudah jelas ada ketentuannya didalam al-qur’an. Bahkan tujuan kita berpakaian seperti ini juga untuk membantunya dalam menundukkan pandangan. Karena memang bukan hati yang mencoba untuk paham tetapi, ego lah yang memimpin untuk tidak akan pernah memahami. Dia bahkan mengulangi pertanyaan yang sama yaitu siapkah aku menjadi asing dan dikucilkan? Aku tidak hilang akal untuk menjawab, dengan baik aku jawab siap, lalu aku lanjutkan dengan mengatakan bahwa peraturan yang dibuat terhadap aku dan yang lainnya merupakan aturan manusia, sementara itu kewajibanku untuk menutup aurat dan berjilbab lebar seperti ini adalah dari Tuhanku. Lalu apa yang aku takutkan, aku akan lebih takut pada murka Tuhanku daripada murkanya manusia. Aku siap ditinggalkan manusia daripada harus ditinggalkan Tuhanku. Pakaianku adalah sebagai tanda aku ingin taat akan semua perintah Tuhanku bukan perintah manusia. Sejenak seniorku terdiam dan menyuruhku untuk mengambil keputusan sesuai keinginanku.

Ujian di awal hijrah, memang begitu berat. Disini, ataupun mungkin di tempat lain di bumi Allah ini ada banyak orang yang menemui ujian yang bermacam-macam saat hendak menapaki jalan menujuNya. Tapi bukankan dulu Rasulullah pun dikucilkan? Bukankah dulu beliau juga diasingkan oleh kaumnya sendiri? Dan bukankah ada banyak kejadian lain yang sungguh memerihkan hati saat beliau terus memperjuangkan kebenaran itu? Dan lihatlah di akhirnya.. kemenangan itu akan hadir, ketika Allah dan kesabaran selalu disertakan dalam setiap ujian itu.

 

oleh : reSya

Share

Annisa Khairani

Mahasiswi Psikologi Universitas Andalas

2 tanggapan untuk “Jilbab lebar dan Anak ustadz

  • Desember 10, 2017 pada 7:16 am
    Permalink

    Keren kisah hijrah nya kak

    Balas
  • Desember 10, 2017 pada 1:42 pm
    Permalink

    MasyaaAllah..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *