Keindahan yang Terindah (Bagian 2)

rindu-rasulullah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

‘Aisyah berkata, “Beliau biasa menambal terompahnya, menjahit bajunya, melakukan pekerjaan dengan tangannya sendiri, seperti yang dilakukan oleh salah seorang di antara kalian di dalam rumahnya. Beliau sama dengan orang lain, mencuci pakaiannya sendiri, memerah susu dombanya dan menyelesaikan urusannya sendiri”.

Jika sebelumnya kita mencoba mengetahui sedikit mengenai ciri-ciri fisik beliau, kita akan kian terpesona bila menghimpun pengetahuan mengenai kebagusan akhlak beliau. Rasulullah SAW adalah gudangnya sifat-sifat kesempurnaan yang sulit dicari bandingannya. Allah SWT telah memuji beliau, “Wa innaka la’ala khuluqin ‘azhiim”. “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. QS. Al-Qalam: 4.

Sebelum nubuwwah beliau sudah dijuluki Al-Amin (orang yang terpercaya). Pada masa jahiliyyah beliau juga ditunjuk sebagai orang yang berwenang mengambil keputusan. Musuh pun tak mengelak untuk mengakui keindahan sosok beliau. Abu Jahal pernah berkata kepada beliau, “Kami tidak mendustakan dirimu, tetapi kami mendustakan apa yang engkau bawa”. Heraklius kaisar Romawi pernah bertanya kepada Abu Sufyan, “Apakah kalian menuduhnya dusta sebelum dia mengatakan apa yang hendak dia katakan?”. Abu Sufyan menjawab, “Tidak”.

Dalam sebuah perjalanan, beliau memerintahkan untuk menyembelih seekor domba. Seseorang berkata, “akulah yang akan menyembelihnya”. Orang lain berkata, “akulah yang akan mengulitinya”. Orang yang lain lagi berkata, “akulah yang akan memasaknya”. Lalu beliau bersabda, “akulah yang akan mengumpulkan kayu bakarnya”. Mereka berkata, “kami saja sudah cukup untuk melakukan itu”. Beliau bersabda, “aku sudah tahu kalian tidak perlu tenagaku. Tetapi aku tidak suka berbeda dari kalian. Sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai hambaNya yang berbeda di tengah-tengah rekannya”. Setelah itu beliau bangkit lalu mengumpulkan kayu bakar”.

Beliau pemberani. Anas berkata, “Suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suara asing. Lalu orang-orang bergegas menuju ke sumber suara tersebut. Mereka bertemu Rasulullah SAW yang sudah kembali dari sumber suara tersebut. Beliau lebih dahulu datang ke sana daripada mereka, di leher beliau ada pedang, beliau bersabda, “Kalian tidak usah gentar!”. (Bersambung)

Share

Satu tanggapan untuk “Keindahan yang Terindah (Bagian 2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *