Keindahan yang Terindah (Bagian 1)

rindu-rasulullah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jabir bin Samurah berkata, “Aku pernah melihat beliau pada suatu malam yang cerah tanpa ada mendung. Aku memandangi Rasulullah SAW lalu berganti memandangi rembulan. Menurut penglihatanku beliau lebih indah daripada rembulan”.

Dialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Manusia agung pilihan Allah SWT, yang pada beliau diturunkan kesempurnaan agama Allah SWT di muka bumi. Siapa manusia yang hari ini disematkan sebagai sosok yang paling tampan, kuat dan hebat, tak sedikitpun mampu menyainginya.

Mari kita dengar cerita para sahabat yang mencintai beliau. Al-Barra’ berkata, “Beliau adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling bagus akhlaknya”. Ia pernah ditanya, “Apakah wajah beliau seperti pedang?”, Dia menjawab, “Tidak, tetapi wajah beliau bulat seperti rembulan”.

Ummu Ma’bad Al-Khuza’iyyah pernah bercerita tentang gambaran diri Rasulullah SAW, ia berkata, “Beliau sangat bersih, wajahnya berseri-seri, bagus perawakannya, di matanya ada warna hitam, bulu matanya panjang, lehernya jenjang, matanya jelita memakai celak mata, alisnya tipis, memanjang dan bersambung, rambutnya hitam….  Jika diam dia tampak berwibawa, jika berbicara dia tampak menarik, beliau adalah orang yang paling elok dan menawan dilihat dari kejauhan, bagus dan manis setelah mendekat, bicaranya manis dan rinci, tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak, bicaranya seakan-akan marjan yang tertata rapi dan landai…. paling bagus tampilannya, mempunyai rekan-rekan yang menghormatinya. Jika beliau berbicara maka mereka menyimak perkataannya, jika beliau memberikan perintah maka mereka bersegera melaksanakannya…”.

Abu Thufail menambahkan, “Kulitnya putih, wajahnya berseri-seri dan perawakannya sedang (tidak gemuk dan tidak kurus, tidak tinggi dan tidak pendek)”. Ali bin Abu Thalib juga berkata, “…. Jika beliau berjalan seakan-akan sedang berjalan di jalanan yang menurun, jika menoleh seluruh badannya ikut menoleh, di antara kedua bahunya ada cap nubuwwah, telapak tangannya yang terbagus, dadanya yang paling bidang, yang paling jujur bicaranya, yang paling memenuhi perlindungan, yang paling lembut perangainya, yang paling mulia pergaulannya, siapapun yang tiba-tiba memandangnya tentu segan kepadanya, siapa yang bergaul dengannya tentu akan mencintainya”.

Anas berkata, “Aku tidak pernah menyentuh kain sutra yang lebih halus daripada telapak tangan Rasulullah SAW. Aku tidak pernah mencium suatu aroma, minyak kesturi dan bau apapun yang lebih harum daripada aroma Rasulullah SAW”. Jabir berkata, “Beliau tidak melewati suatu jalan lalu seseorang membuntutinya, melainkan dia bisa mengetahui bahwa beliau telah lewat, dari keharuman bau keringatnya”.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *