Kisah Kelam Selembar Hijab

Hijab merupakan ciri khas muslimah Indonesia sejak zaman prakemerdekaan Indonesia,terutama di daerah Aceh dan daerah yang beretnis melayu lainnya. Seorang Ratu Aceh bernama Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Ta’jul Alam Syah Johan dan Cut nyak Din merupakan bukti konkrit bahwa Hijab merupakan hal yang sudah lumrah sejak waktu yang lama di Indonesia. Pada masa pergerakan kita juga bisa melihat perempuan-perempuan muslim mengenakan Jilbab mereka walaupun hanya berupa selendang yang hanya disampirkan dikepala.

Ada juga Nyai Achmad Dahlan pendiri Nasyiatul Asiyiah Muhammadiyah dan Rahmah El-Yunusiah Mujahidah, pejuang perempuan berdarah minang yang juga berperan dalam lahirnya lembaga TNI di Indonesia.

Pencabutan Hak berjilbab Pada Tahun 70-80an

Sesuatu yang cukup mencengangkan umat Islam setelah kemerdekaan adalah ketika para muslimah dilarang untuk mengenakan Jilbab mereka disekolah, hal ini terjadi pada dekade 70-80an dimana Pemerintah yang notabene dikuasai 44% oleh militer dalam hal ini Depdikbu melaluli SK Dirjen Dikdasmen No.052 tahun 1982.

Dalam peraturan itu dijelaskan bahwasanya pakaian seragam ketika itu adalah satu jenis saja, pakai jilbab keseluruhan atau tidak semuanya. Maka tidak jarang terjadi penghukuman,dan pemaksaan untuk melepas jilbab mereka oleh pihak sekolah, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mesti dikeluarkan dari sekolah karena bersikeras tetap menggunakan jilbab disekolah.

Pada masa itu juga tidak sedikit terjadi pertentangan antara umat Islam dan Pemerintah, dimana umat Islam dianggap sebagai lawan politik yang bisa secara tiba-tiba bisa menganggu program pemerintah. Hal ini juga bisa berujung pada fitnah yang sangat merendahkan umat Islam kala itu,terutama muslimah pada masa itu semakin dalam jilbab mereka semakin besar kecurigaan masyarakat dan pemerintah kepada mereka.

Sungguh ironi memang, negara yang pernah diperjuangkan oleh mereka yang bertakbir dan mengenakan jilbab malah mendapatkan diskriminasi oleh pemerintah.

Revolusi Jilbab di Indonesia

Menanggapi isu yang cukup panas itu, beberapa organisasi Islam; DDII(Dewan Dakwah Islam Indonesia ) dan PII ( Pelajar Islam Indonesia) tidak tinggal diam. Pada tanggal 8 Desember 1982 DDII mengirimkan surat kepada MUI dalam surat setebal empat halaman itu DDII mengungkapkan keprihatinanya terhadap isu pelarangan jilbab. Pada tanggal 8 Januari 1983 PII wilayah mengirimkan surat pernyataan kepada semua pihak berwenang dan terlibat , antara lain Ketua MPR-DPR,Menteri-menteri,dan MUI,untuk ikut menuntaskan masalah jilbab. Demikian juga dengan Pimpinan Pusat Badan Pembela Masjidil Aqsho(BPMA) menyampaikan “ Teriakan Hati Kepada Semua Pihak yang Menangani Pendidikan”  mereka menyatakan bahwasanya mengenakan jilbab merupakan kewajiban setiap mukminah , pemakainya dijamin oleh konstistusi, dan pelaranganya akan menimbulkan keresahan dimasyarakat.

Demikan juga pada tanggal 15 Januari 1983 siswi-siswi yang berjilbab dari SMA,SMEA,dan SGA Tanggeran,Bekasi, dan Jakarta juga mengajukan protes ke DPRD DKI Jakarta agar diperbolehkan mengenakan pakaian muslimah selama jam pelajaran.

Pada masa-masa berikutnya terjadi komunikasi yang cukup intensif antara MUI dan Pemerintah(Depdikbud). Walau dialog dan diskusi juga tidak membuahkan hasil, namun hal ini menjadi pertimbangan Menteri Depdikbud Fuad Hasan dan Dikdasmenya Hasan Walinono untuk mempertimbangkan kembali peraturan seragam.

Akhirnya pada tanggal 16 Februari 1990 keluar SK 100/c/Kep/D/1991 yang menggantikan SK 052 , SK baru tersebut disana tidak berbunyi “jilbab” melainkan “seragam khas” dalam peraturan itu dinyatakan “Siswi (SMP dan SMA) yang karena keyakinan pribadinya menghendaki penggunaan pakaian seragam sekolah yang khas dapat mengenakan seragam yang khas yang warna dan rancangan sesuai lampiran III dan IV “ Pada lampiran bisa dilihat bentuk seragam khas yang dimaksud, yang tidak lain adalah busana muslimah dengan jilbabnya.

Demikian sekelumit kisah perjuangan panjang selembar kain yang menutup kepala muslimah,sederhana bentuknya namun dalam maknanya, karena lembarannya tidak hanya membungkus rambut melainkan bentuk ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya.

 

(Daku Panca Putra)

Share

Annisa Khairani

Mahasiswi Psikologi Universitas Andalas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *