Macet

Pagi yang cerah menyambut hari pertama kerja. Hawa embun masih menyeruak ketika kita mempersiapkan keberangkatan. Seperti Senin yang sudah-sudah, kita mengawali hari dengan lalu lintas yang sibuk.

Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur; seakan-akan seperti satu bangunan yang tersusun kokoh (As-saff: 4).

Kesibukan itulah yang mempertemukan kita dalam barisan-barisan. Tidak di jalan perang tentunya. Kita hanya bertemu dalam barisan lalu lintas. Di antara kita sekali waktu berpapasan di jalan yang sama. Sebentar saja. Tetapi, ada yang lebih lama mempertemukan kita: kemacetan.

Semula, lampu lalu lintas mengatur perpindahan arus dari jalan-jalan yang membentuk simpang secara bergilir. Namun, bagaimana jadinya jika ada dua arus melaju pada saat yang sama?

Kemacetan, demikian yang terjadi pada jam keberangkatan. Dengan alasan terburu-buru, kita menjumpai pengendara yang masih melaju saat lampu merah sudah menyala. Mereka menerobos persimpangan bersamaan dengan melajunya pengendara di jalan yang sudah mendapat giliran lampu hijau. Jadilah, dua arus bertemu di persimpangan, menyebabkan antren di belakang, dan kita bisa saja tersendat di persimpangam atau mendapatkan beberapa kali lampu merah di persimpangan yang sama.

Akankah kita membenarkan kebersamaan dalam pelanggaran?

“Ah, itu perkara kecil tak usah dibesar-besarkan!” Perkara kecil bagi yang telah berada di jalan pelanggaran. Hitungannya bukan lagi patuh atau melanggar, tetapi kecil atau besar satu pelanggaran. Kalau begitu semua yang melanggar akan membela diri bahwa pelanggarannya kecil dan membandingnya dengan pelanggaran yang lebih besar.

Ketika pandangan kita tertumbuk pada ukuran peraturan yang kita langgar, kita lupa akan dampak yang diakibatkannya. “Janganlah kamu memandang remeh sekecil apapun kebaikan (HR Muslim).” Demikian bunyi hadis. Setiap peraturan akan memberikan jaminan keteraturan kepada kita bila dipatuhi. Melanggar peraturan tak hanya berdampak bagi yang melakukan. Dampaknya akan berhingga pada orang di sekitarnya, seperti kemacaten yang terjadi karena menyusupnya pelanggar-pelanggar rambu lalu lintas.

Menyambung ayat di muka, bagaimana ketika keteraturan barisan kita diuji oleh Allah dengan mempertemukan kita dalam barisan peperangan?

Dulu, Allah pernah menguji barisan orang Mukmin melalui Perang Uhud. Pasukan Muslim hampir saja pulang membawa kemenangan. Namun, keluarnya para pemanah dari barisan justru membuat kesudahan kubu Muslim kacau balau. Mereka turun dari Bukit Uhud kerena buru-buru memperebutkan harta rampasan perang. Seorang sahabat Abdullah ibn Jubair telah memperingatkan, “Apakah kalian lupa pesan Rasulullah kepada kalian?”

Waktu itu, Rasulullah berpesan kepada mereka agar tetap berada di tempat sebelum ada perintah turun. Mereka yang tak mematuhi perintah Rasulullah bergegas turun memperebutkan ghanimah. Keluarnya para pemanah dari barisan di sudut mata Khalid ibn Walid yang ketika itu belum masuk Islam. Menumpuknya pasukan Muslim di titik ghanimah membuat mereka dikepung dan mudah dihabisi oleh pasukan musyrik .

Nah, di luar suasana perang yang genting, menciptakan barisan yang teratur atau menjaga keteraturan barisan dalam berlalu lintas saja rasanya masih perkara yang diremehkan. Namun, kapankah lagi?

Jangan sampai pandangan remeh kita terhadap perkara kecil saling berkelindan sehingga datang keadaan yang kacau dan menimbulkan kerugian bagi orang banyak; membuat macet arus yang seharusnya lancar. Kita buru-buru karena macet atau kemacetan lahir karena keterburu-buran kita?

“Tit tit tit…”

*Rahmat Irfan Denas. Ditulis saat terjemak macet di Simpang Alai.

Share

Rahmat Irfan Denas

jalan-jalan~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *