Mau Bikin Status ? Baca Ini Dulu

nulis

nulis

 

 

Oleh Iqbal Tarigan
Pimpinan Redaksi Assalam Media

Dulu, video-video harian dirumah akan diseleksi dulu oleh Televisi Amerika untuk ditayangkan di America Home Funniest Video. Tapi sekarang, media social memungkinkan video apapun bisa di posting di akun youtube, Bahkan kita bisa mengatur jangkauan publiknya. Video keseharian bayi bernama Tatan bahkan melejit di instagram hingga ia menjadi selebgram yang dihadirkan di berbagai program televisi. Bahkan wajah imutnya jadi familiar di emotikon di Line. Curhatan Youtuber seperti Awkarin secara cepat menuai simpati dari jutaan viewers hanya gara-gara putus dengan mantannya.  Sampai bunuh diri pun kini bisa disaksikan secara live ! Jadi bukan hal yang tabu lagi kalau media social bisa buat siapa dan apa saja jadi terkenal. Baik karena statusnya yang menuai simpati atau malah kontroversi.

Hal yang harus kita pahami adalah, Bahwa postingan media social seseorang bisa membuat ia memiliki identititas baru dihadapan publiknya/followernya sendiri. Ulah teknologi hari ini memungkinkan setiap kita bisa menyalurkan hasrat narsisme. Semua dilakukan untuk mendapatkan citra dan pengakuan baru di hadapan public yang baru, Citra ini bisa dilihat melalui feedback postingan seperti “Komentar”, “Like” banyak followers, dsb.

Sekarang Perusahaan besar seperti CT Corp (Chairul Tanjung Corporation) tidak hanya mengandalkan psikotes dan wawancara dalam menyeleksi calon karyawannya. Induk dari anak perusahaan seperti Transmart, Transmedia dan Ibis Hotel ini juga ketat dalam menimbang siapa calonnya melalui statusnya di media social. Ini juga termasuk bagian seleksi. Karena CV (Curriculum Vitae) bukti ijazah dan sertifikat prestasi dari kertas-kertas saja belumlah cukup untuk menggambarkan keaslian calon yang sebenarnya. Egois atau tidak egois, arogan atau humble, ekslusif atau inklusif, toleran atau intoleran, sumbu panjang atau sumbu pendek, keras kepala atau terbuka, beretika atau kurang ajar, semua karakteristik itu akan tecermin dari akumulasi status-status kita.

Maka pertama, kedepankanlah kehati-hatian sedari sekarang. Sadari, bahwa status dan komentar kita di media sosial adalah cerminan fikiran, sikap dan tindakan kita. Sekali dua kali, kita mungkin bisa berbohong. Tapi yakinlah, bahwa status yang lebih banyak muncul justru lahir dari spontanitas, tanpa rekayasa. Your status is Your brand.

Kedua, bijaklah dalam memosting, pilih yang baik dan bisa dimaklumi orang lain. Tidak semua hal baik layak untuk diceritakan. Persis saat Nabi Yusuf yang bermimpi sebelas bintang yang bersujud padanya, sebuah mimpi yang luar biasa, kemudian ia menceritakan pada Ayahnya, Yaqub. Namun Sang Ayah dengan bijak menahan putera tampannya itu untuk menceritakan pada saudara-saudaranya karena bisa menimbulkan keirian antar sesamanya.  Artinya, hasrat untuk berbagi identitas dan narsis dihadapan publik adalah alamiah manusia. Namun eloknya hasrat itu dikelola dengan fikiran yang jernih, sehingga apa yang kita posting tetaplah mencerminkan kebaikan dan menimbulkan simpati orang pada kita,

Pun tidak selayaknya semua hal menyebalkan dan buruk untuk dibeberkan di media social. Ada sebuah ungkapan monumental dari seorang pemikir bernama Ali bin Abi Thalib,  “Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu , dan yang membencimu tidak akan percaya itu.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *