Mencari Rabb

Suatu hari datanglah ke kampung muslim seorang atheis yang tak percaya adanya Rabb. Kedatangannnya telah membuat resah para penduduk muslim. Namun mereka tak mampu mengusirnya. Salah satu yang membuat resah adalah si atheis suka menanyakan hal-hal ketuhanan yang sulit-sulit kepada para pemuda. Kadang-kadang, karena pemuda itu tak mampu menjawabnya, mereka mulai terpengaruh.

“Baik, sekarang datangkan padaku seseorang yang bisa menjawab tiga pertanyaan dariku.” Kata si atheis. Kebetulan di situ ada seornag Syeikh yang alim.

“Sampaikanlah pertanyaanmu,”kata sang alim.

“Pertama, apakah Allah itu ada? Kalau ada buktikanlah!

Kedua, apakah sebenarnya hakikat Qadha dan Qadar?

Ketiga, mengapa setan dimasukkan ke neraka? Apa gunanya? Pasti tak akan merasa sakit. Sebab setan dari api, neraka pun berisi api.” Deikian si atheis menuturkan pertanyaannya.

“Sudah cukup? Kemarilah Nak, mendekat padaku,” kata sang alim. Si atheis pun mendekat. Dan begitu mendekat, sang alim menampar muka si atheis sekeras-kerasnya.

“Plakkk..plakkk..plakk!”

“Hei, kau tak boleh marah, kalau tak bisa menjawab maka katakanlah,” kata si atheis sambil menahan rasa sakit.

“Justru itu jawaban dari ketiga pertanyaanmu, wahai anak muda.” Jawab sang alim. Lalu, isa melanjutkan.
“Apakah kau merasa sakit?” Tanya sang alim.

“Ya, tentu saja,”jawab si atheis masih memegangi mukanya.

“Mana buktinya, aku tak melihatnya?”
“Namun, aku merasakannya.”

“Nah, itulah jawaban untuk pertanyaanmu yang pertama. Kau yakin bahwa Allah itu ada dank au merasakannya, tapi kau tak bisa melihatnya. Begitulah Allah, kau merasakan keberadannya dalam hidup ini, tapi kau tak akan bisa melihatnya di dunia ini.”

“Berikutnya, apakah kau mimpi seseorang akan menamparmu siang ini? Tanya sang alim.

“Tidak.” Seru si atheis.

“Apakah kau mengetahui sebelumnya bahwa siang ini seseorang akan menamparmu?”

“Tidak!”

“Begitulah Qadha dan Qadar. Kau tidak akan mengetahuinya sebelum segalanya terjadi.”

“Lalu bagaimana dengan yang terakhir?” Tanya si atheis.

“Baiklah, dari apa kulit wajahmu berasal” Tanya sang alim.

“dari tanah.”

“Dan tanganku yang menamparnya?”

“Dari tanah juga.”

“Nah, kau sudah tau sekarang. Sesama tanah pun busa menyakiti, maka sesama api juga bisa saling menyakiti.”

Si atheis tercenung, tapi diam-diam ia membenarkan semua jawaban sang Alim. Akhirnya ia memeluk agama islam. Kemudian sang alim menasihatinya,

“Anak Muda, hari ini aku bisa menjelaskan dengan logika. Namun, tak semuanya bisa dilogika. Rajinlah beribadah. Mohonlah selalu petunjuk kepada Allah.

(dikutip dari buku “Wajib Untuk Dibaca” karang M. As’ad Mahmud, Lc)

Tak semua hal akan mampu dijangkau oleh logika. Memang ada kalanya logika mampu menguatkan. Tetapi logika manusia ada batasnya. Dan iman bukan sekedar yang mampu dicapai oleh akal, tapi apa yang mampu dirasa oleh hati.

 

(Annisa khairani)

Share

Annisa Khairani

Mahasiswi Psikologi Universitas Andalas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *