Mengapa Yerussalem Tidak Boleh Dikuasai Oleh Israel?

Oleh Gushidayat Afriandi

Beberapa hari terakhir, dunia menjadi gempar kembali karena isu Yerussalem. Hal ini terjadi karena Presiden Amerika Serikat mengumumkan akan mengakui Yerrusalem sebagai ibukota Israel dan segera mungkin memindahkaan kantor kedutaannya ke kota tersebut.

Yerrusalem atau sering kita kenal sebagai Al Quds, bukan sekedar nama bagi sebuah kota tua. Kota tersebut merupakan “kota terpanas” yang status kepemilikannya selalu diperebutkan selama lebih dari 3000 tahun. Khususnya dalam hampir 70 tahun belakangan, Yerussalem terus menjadi sasaran sengketa antara Palestina dan Israel.

 

Perlu diketahui, ada beberapa hal yang menyebabkan keputusan Presiden Amerika Serikat mengakui Yerussalem sebagai ibukota Israel perlu ditentang.

Pertama, pendudukan Israel atas wilayah tersebut adalah tidak sah. Sejak lebih dari separuh abad yang lalu, Israel mencaplok wilayah Palestina melalui peperangan, salah satunya Yerussalem (Al Quds). Apabila Amerika Serikat tetap mengakui pendudukan Israel terhadap Yerussalem (Al Quds) juga berarti mengakui adanya penjajahan di atas muka bumi. Dengan kata lain AS mengkhianati semangat dan prinsip Deklarasi Kemerdekaan dan Deklarasi Universal HAM yang mereka agungkan selama ini.

Kedua, bukan hanya Palestina yang tidak menginginkan penguasaan kota suci tersebut oleh Israel, melainkan negara-negara di dunia. Hingga saat ini telah ada 15 resolusi Dewan Keamanan PBB, 7 resolusi Majelis Umum PBB dan 6 resolusi UNESCO yang semuanya mengecam perbuatan Israel selama menduduki Yerussalem atau Al Quds. Semua resolusi tersebut ditetapkan sebagai wujud itikad baik negara-negara dunia mewujudkan perdamaian antara Israel dan Palestina. Sebuah ironi bagi Amerika Serikat yang sejak 70 tahun lalu mengkampanyekan perdamaian dunia, kini malah menyulut api konflik dengan mengakui Yerussalem sebagai ibukota Israel.

Ketiga, sudah semestinya bagi ummat Islam untuk memperjuangkan status Yerussalem atau Al Quds dan melawan kesewenangan Israel dan pendukungnya. Ummat Islam punya keterikatan sejarah dengan Yerussalem atau Al Quds, mengingat bahwa kota tersebut adalah tempat di mana Rasulullah SAW bertolak untuk mi’raj dan keberadaan Masjidil Aqsa sebagai kiblat pertama.

Share

Annisa Khairani

Mahasiswi Psikologi Universitas Andalas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *