ORATOR KEBANGGAAN RASULULLAH & ISLAM

ASSALAMMEDIA-Bintang di podium, bintang di medan perang.

Jika diibaratkan dengan zaman sekarang, itulah perumpamaan yang paling tepat untuk salah seorang sahabat Rasulullah, ORATOR kebanggan Rasulullah dan Kebanggan Islam, Tsabit bin Qais.

“Segala Puji bagi Allah. Langit dan bumi adalah ciptaanNya. Keduanya berjalan sesuai aturanNya. singgasanaNya meliputi ilmuNya. Setiap yang ada adalah karuniaNya. Dengan Kemahakuasaan-Nya kami dijadikan pemimpin. Memilih manusia terbaik sebagai Rasul. Dialah manusia paling mulia, paling jujur, dan Paling tinggi derajatnya. Kepadanya diberi alQuran dan diserahi tanggung jawab membimbing seluruh manusia. Dialah manusia terbaik pilihan Allah di alam semesta ini. Ia mengajak manusia beriman. Ajakannya disambut baik oleh kerabat dan kaumnya. Merekalah kelompok manusia dari keturunan terbaik dan ternyata tingkah laku merek ajuga sangat baik. Merekalah orang-orang Muhajirin. Kemudian kami, kaum Anshar datang menyambut ajakannya, kamilah para penolong agama Allah dan pendamping RasulNya”

Ini merupakan salah satu orasinya di hadapan Bani Tamim setelah Bani Tamim datang dan membanggakan kaumnya di hadapan Rasulullah. Dan Rasulullah meminta Tsabit untuk menjawabnya. Begitu berani dan lantang. (Nah, gimana kita hari ini? Adakah kita bangga menjadi muslim, menjadi pembela Rasulullah? Semoga.. dan insya Allah kita bangga)

Diantara sekian banyak peperangan yang dihadapinya dengan gagah berani, peristiwa berikut membuktikan bahwa Tsabit bin Qais adalah seorang prajurit yang juga gagah berani,

Di Perang Yamamah, Tsabit melihat dampak buruk dari serangan mendadak pasukan Musailamah Al-Kadzab. Maka ia berseru “Demi Allah, tidak seperti ini dulu kami berperang bersama Rasulullah,”. Ia pergi tidak jauh. Ketika kembali ia sudah membalut badannya dengan kain kafan.

Ia berseru lagi, “Ya Allah, aku benar-benar tidak ikut bertanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan (kaum muslimin yang berperang dengan tidak gigih.)”

Salim Maula Abu hudzaifah yang memegang bendera kaum muslimin bergabung bersamanya. Keduanya menggali lubang, masuk ke lubang itu dan menggalinya dengan tanah, hingga separuh tubuh mereka tertimbun dalam lubang.

Dua orang itu bagai paku yang separuh badannya tertanam dalam tanah dan separuhnya lagi menghadap ke arah musuh siap menghadapi setiap tentara musuh yang mendekat.

Mereka membabat habis setiap msuh yang mendekat, hingga akhirnya keduanya menemui kesyahidan di lubang mereka.

Tindakan dua tentara muslim itu ternyata sangat besar pengaruhnya mengembalikan semangat pasukan islam. Mereka kembalu berperang denga gigih hingga akhirnya pasukan Musailamah terkubur dengan pasir dan tanah untuk selamanya.

 

**
Nah, siapapun yang memiliki kemampuan bahasa yang lebih, tak berarti tak bisa memanfaatkan kelebihannya di jalan Allah kan?

**

Kelebihan yang dimiliki Tsabit ini tak lantas membuatnya menjadi orang yang berhati sombong. Sang Orator dan prajurit pilih tanding ini memiliki jiwa yang patuh dan hati yang tunduk. Ia sangat takut dan malu kepada Allah.

Ketika Allah menurunkan ayat, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara melebihi suara Nabi dan janganlah berkata kepada Nabi dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara diantara kalian sendiri, karena yang demikian itu menjadikan amal kalian sia-sia tanpa kalian sadari. (Al-Hujurat : 2). Tsabit menutup pintu rumahnya lalu menangis. Rasul mencarinya dan menanyakan tentang idirnya. Beliau menyuruh seserang untuk memanggilnya.

Tsabit memenuhi panggilan Rasul. Ketika ditanya tentang ketidakhadirannya, ia menjawab, “Aku ini orang yang sangat lantang suaranya. Aku sering meninggikan suara melebihi suaramu ya Rasulullah. Jadi, amal kebaikanku sia-sia dan aku akan masuk neraka, “

Rasulullah menjawab, “Kamu tidak akan masuk neraka. Kamu akan hidup mulia. Mati sebagai syahid dan Allah akan memasukkanmu ke Syurga.”

***

Nah, keren kan sahabat asmed? Sahabat asmed aja keren, apalagi kalau senantiasa mengikuti Rasululllah dan menjadikan generasi awal islam sebagai teladan dalam kehidupan. Setiap sahabat Rasulullah hijrah ke dalam islam dengan cir khasnya masing-masing. Hijrah tak berarti menghilangkan kemampuan yang dimiliki, tapi hijrahnya sahabat menjadikan kemampuan yang dimiliki dengan sebuah ukiran indah bernama islam.

Tim redaksi pernah dengar nih, “kita tidak akan pernah merasakan indahnya nasehat Al Quran hingga kamu merasakan bahwa setiap nasehat Al Quran itu ditujukan padamu”. Tsabit adalah salah satu contohnya.

Pelajaran apa yang bisa kamu ambil dari ?
Tulis di bukumu, tancapkan di hatimu, amalkan di harimu.

Sampai jumpa di sirah sahabat selanjutnya…

 

(annisa khairani)

Share

Annisa Khairani

Mahasiswi Psikologi Universitas Andalas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *