Semangat Menuntut Ilmu – Said Nursi

Berbicara tentang menuntut ilmu, kebanyakan kita langsung mengarahkan pikiran pada tempat menuntut ilmunya, yakni seperti sekolah, kampus dan lainya. Padahal menuntut ilmu bisa saja dimanapun selagi ada kebaikan dan ilmu yang disampaikan kepada kita. Pada zaman era modern yang makin canggih ini menuntut ilmu sudah bukan lagi, dirasakan sebagai kebutuhan,  tapi seringkali hanya sebagai rutinitas ketika berada di lingkungan pendidikan. Padahal dengan kemajuan teknologi sekarang ilmu bisa diperoleh dengan cara yang sangat mudah.

Allah sudah berfirman dalam Qs. Al-Alaq: 1 yang artinya “ Bacalah” yang bermakna seruan untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu tidak memandang usia bahkan menuntut ilmu adalah suatu kebutuhan bagi seseorang, karena dengan ilmu, seseorang jadi mulia dan derajatnya ditinggikan dihadapan Allah SWT. Pertanyaannya sekarang adalah, adakah kita bersemangat dalam menuntut ilmu?  PadahalRasulullah sudah berpesan, jika ada kita berharap bahagia didunia, tentu harus memiliki ilmu dunia dan jika ingin bahagia di akhirat tentu kita juga harus memiliki ilmu akhirat dan jika kedua-duanya (dunia wal akhirat ) maka juga harus dengan ilmu.

Kita kembali membuka sejarah karena sejarah dapat barangkali memberikan cambukan di hati kita dan menyadarkan kita untuk lebih bersemangat dalam menuntut ilmu, familiarnya kebanyakan orang mengistilahkan  “Jas Merah” ( Jangan sekali-kali Melupakan Sejarah ) yaitu “ Said Nursi”

Siapa beliau? Mari kita simak ..

Said Nursi dilahirkan pada tahun 1877, disebuah desa terpencil di daerah Nurs, Provinsi Bitlis Anatolia Timur, terdapat di lereng rangkaian pegunungan Taurus dekat Danau Van. Ayahnya bernama Mirza dan ibunya bernama Nuriye. Nursi berasal dari suku Kurdi yang menyebar di daerah timur daerah Kesultanan Utsmani hingga ke Suriah, Iraq dan Iran saat ini.

Di desa itu Nursi dibesarkan, dengan kehidupan berladang kedua orang tuanya mencukupi kehidupan anak-anaknya. Pada umur sembilan tahun ia mulai proses pencarian ilmunya, diawali dengan belajar al-Quran. Masa kecil Nursi dihabiskan dengan berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain, satu guru ke guru lainnya. Hal itu lebih dikarenakan kenakalannya pada masa itu sehingga hampir disetiap sekolah ia berkelahi dengan salah seorang murid hingga kemudian ia dikeluarkan.

Kakaknya adalah orang yang terpelajar, seorang murid yang cemerlang. Darinya lah Nursi mendapatkan semangat untuk mencari ilmu, setelah melihat bahwa kakaknya memiliki kedudukan tersendiri dihadapan teman-temannyas yang tidak sekolah. Karena selalu berpindah sekolah membuat ia kelelahan sendiri. Akhirnya, Nursi belajar kepada kakaknya yang pulang seminggu sekali ke rumah. Setelah satu tahun belajar kepada kakaknya, Nursi pun memulai pengembaraannya untuk mencari ilmu.

Nursi adalah seorang anak yang cerdas, ia dengan mudah menghafalkan dan memahami buku yang ia baca. Ia pun sering merasakan ketidakpuasan karena guru yang mengajarinya tidak lagi mengajari hal yang ia belum ketahui sehingga ia memutuskan untuk berpindah mencari guru lain. Ia juga rajin membaca, bahkan dari membaca inilah ia lebih banyak mendapatkan ilmu ketimbang dari gurunya.

Sekolah yang paling mempengaruhinya adalah madrasah Beyazid di kota Bitlis, yang dipimpin oleh Syekh Muhammad Celali. Saat itu umurnya telah mencapai 14 tahun dan ia hanya belajar disana selama tiga bulan. Namun masa tiga bulan di sana ia telah mampu belajar dan menguasai berbagai macam buku. Ia mampu untuk menghabiskan buku setebal lebih dari 200 halaman dalam waktu 24 jam. Menurut pengakuannya kepada kakaknya, ia telah menghabiskan 80 buku selama ia berada di sekolah itu. Iapun mampu menguasai kitab Jam`ul Jawami, Syarh al-Mawaqif, dan buku fikih karya Ibnu Hajar al-Haitsami. Dan ia mendapatkan ijazah diplomanya dari sekolah itu.

Ketenarannya juga berdampak pada tingginya kesulitan yang ia hadapi. Beberapa orang yang ia kalahkan dalam debat ilmiah menyusun sebuah konspirasi untuk menjatuhkannya di hadapan umum. Akhirnya ia pergi ke kota Tillo dan menyendiri mengasingkan diri di sebuah bangunan berkubah di sana. Di sana ia menghafalkan Qamus al-Muhith hingga huruf ke empat belas, abjad sin.

Tak lama ia pun berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bergaul dengan pemimpin dan para cendekia. Ia pernah bertemu dengan dua orang pendatang di kota Mardin, satu pendatang adalah merupakan pengikut dari Jamaluddin al-Afghani dan satunya adalah anggota Ordo Sanusi yang memainkan peran penting melawan penjajahan kolonial di Afrika Utara. Nursi banyak berdiskusi dengan mereka berdua.

Masa remaja ia habiskan dengan membaca buku dan berdialog. Pada umur 17 tahun, ia tinggal di rumah Gubernur Bitlis yang memiliki perpustakaan dan banyak koleksi buku. Ia menghabiskan waktu untuk membaca di sana. Dan pada umur 19 tahun ia tinggal di Rumah Gubernur Van, membaca di perpustakaan, bertemu dengan orang-orang penting dan para cendekia. Saat itu ia telah dikenal sebagai Badi`uzzaman, keajaiban zaman, karena kecerdasannya. Ia tetap di Van hingga pergi ke Istambul pada tahun 1907 saat berumur 30 tahun.

Dari paparan diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa kesadaran menuntut ilmu harus di tanamkan dari diri sedini mungkin, dimasa-masa belajar ini agar kita dapat menjadi pemuda yang ideal, maka ilmu harus di barengi dengan membaca buku, aktivis dakwah harus memiliki ilmu dalam berdakwah, ilmu adalah alat dalam berdakwah, ilmu dan amal itu sangat berhubungan erat sehingga dalam menyampaikan kebaikan kepada orang lain harus dengan ilmu. Selanjutnya orang yang berilmu juga masih diuji oleh Allah SWT dengan orang-orang yang tidak suka dengannya, maka disanalah, seorang da’i diuji, ia akan naik ke kelas yang lebih tinggi. Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Said Nursi adalah agar kita dapat lebih memotivasi diri lagi untuk bersemangat dalam menuntut ilmu agar derajat kita dihadapan Allah SWT ditinggikan dan juga dihadapan para makhlukNya.

 

Sumber:

diringkas dari  buku yang berjudul “Biografi Intelektual Badiuzzaman Said Nursi

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *