Taujihat Pekanan- Tentang kesendirian

Assalamualaikum wr wb..

“Bersatu menjalin ukhuwah”. Apa kabar pejuang tangguh ASSALAM hari ini? Semoga kobaran semangat tiada pernah padam menyelimuti hari-hari kita. Semoga Allah jua lah yang senantiasa menjadi penggemuruh di dalam dada untuk tak pernah henti bergerak, tak henti untuk tetap menebar senyum dan inspirasi kebaikan.

Dan shalawat beserta salam tak lupa kita kirimkan untuk  sosok yang 14 abad lalu pernah menangis merindu dan mengkhawatirkan kita dan menyebut-nyebut kita di akhir perjumpaannya dengan kehidupan dunia, yakni Rasulullah SAW. Tak terbilang cintanya pada sahabat, tak terukur kasihnya pada ummat. Ia tanggung luka hebat, ia tahan nafas yang tercekat demi memperjuangkan risalah Allah dan menghadirkan mukmin nan taat.

Lantas, perjuangan kita hari ini sampai dimana?

Pejuang ASSALAM, tentaranya Allah, di sudut manapun antum berada. Sungguh, ini bukanlah ungkapan dari seseorang yang lebih baik daripada antum. Ini bukan perkataan orang yang jauh lebih kuat imannya dari antum. Boleh jadi yang mengungkap jauh lebih hina, boleh jadi yang mengungkap jauh lebih tak sempurna imannya. Tapi ini hanyalah salinan kata dari seorang yang dulu juga pernah berada di posisi antum hari ini.  Kala dulu masih berbaju putih abu-abu, lantas disuruh hadir, duduk di ta’lim pekanan, angkatkan agenda, sms tausiyah, dan lain lagi.

Masih teringat kala dulu hidayah belum menyapa, berulang kali terjemahan ayat Allah itu disebut-sebut Pembina. Berulang kali. “…barangsiapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya”. (QS Muhammad : 7). Hingga kemudian perjuangan demi perjuangan, agenda demi agenda mulai mengungkap maknanya. Yap, The Power of Words.  Maka kata mana lagi yang lebih kuat daripada kalamnya Allah?

Seringkali kita merasakan berjuang sendiri. Agenda besar tapi tak banyak yang ikut berkontribusi.  Kadang kala keikhlasan seakan diuji. Tapi berbaik sangka tak pernah jadi sosok yang ketinggal ambil bagian dalam tiap rapat. Tak pernah terucap kata kecewa dengan ketidakhadiran yang lain, yang penting maju saja. Rencanakan sebaik mungkin. Eksekusi. Hasilnya serahkan pada Allah. Ada gamang yang seringkali terasa, kala waktu telah hampir tiba, tapi masih saja terdapat banyak hal yang perlu untuk dilakukan, masih banyak kekurangan yang mesti diatasi, bahkan masih banyak dana yang mesti dicari. Tapi Allah tidak pernah tidur. Benarlah sudah janjiNya, “..sungguh, pertolonganku sangatlah dekat”. (Q.S albaqarah : 214).

Seringkali kita merasa berjuang sendiri. Padahal selalu ada Allah yang membersamai langkah. Mungkin kita seringkali lupa bahwa Rasulullah diutus untuk menyampaikan risalah hanya sendiri. Mush’ab bin Umair diutus Rasulullah untuk menyampaikan Islam hingga ke Yastrib juga sendiri. Lantas jika hari ini kita merasa sendiri, pantaskah kita mengeluh?

Ana sempat tersentak dengan sebuah ungkapan dari salim A fillah. “Jika hanya dunia yang jadi tujuan, agama bisa jadi peralatan. Jika hanya sekedar kaya yang jadi impian, syurga bisa dijadikan agunan. Tetapi jika menolong agama Allah yang jadi kegelisahan dan tekad membara, maka kita akan siap berletih-letih berjuang dalam namaNya. Biarlah yang besar itu karyamu, bukan dirimu. Biarlah yang tinggi itu capaianmu, bukan hatimu.”

Allah menguji keikhlasan  dalam kesendirian. Dan janji Allah itu pasti.
“…barangsiapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya”. (QS Muhammad : 7).

Semoga Allah senantiasa istiqomahkan hati ana dan antum untuk tetap berada disini, di dakwah ini, letih kita belum berbanding dengan letih rasulullah, tetapi tugas kita adalah untuk berbuat, kita yang digelari “pewaris nabi”, pelanjut risalah dakwah Rasulullah, semoga tetap kokoh berdiri menembus segala keterbatasan yang ada. “kuntum khaira ummah..”

Sungguh, tiap nasihat yang tersirat dalam tulisan ini lebih pantas ditujukan kepada yang menulis. Satu telunjuk yang ana arahkan, tetapi empat lagi mengarah kepada diri ini. Berjuang..berjuang.. kemudian biarkan benang-benang Allah yang bekerja setelah itu.

Wassalamualaikum wr wb.

(laforVe)

Share

Annisa Khairani

Mahasiswi Psikologi Universitas Andalas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *