[Taujihat Series] Umar dan Bidadari Edisi Spesial

bidadari( WAJIB DIBACAKAN PADA FORUM RAPAT MPP/DPP/DPD/ASMED/TPW ASSALAM  PADA RENTANG WAKTU  29 – 05 APRIL 2017
Oleh : MPP KADERISASI ASSALAM SUMBAR

Tolong antum jangan ketawa dulu ya. Stop senyum-senyum sendiri. Please… dalam hati aja Ini bacaan khusus untuk antum yang mau memperoleh energi dahsyat dalam diri. Siap ? 🙂

Mari kita simak kisah berikut…

Suatu masa ketika rasulullah di mi’rajkan menghadap Allah. Jibril memperlihatkan taman-taman surga kepada beliau Saw. Ketika itu, Rasul melihat ada sekelompok bidadari yang bercengkrama. Tetiba ! dari pandangan itu, ada yang mencuri perhatian, Siapakah itu ? Aha ! rupanya ada seorang bidadari yang memilih menyendiri dari kelompok lainnya. Berbeda dari yang lain dan kelihatan sangat pemalu.

Rasulullah bertanya pada jibril. “Wahai Jibril ‘alayhissalam, bidadari siapakah itu ?”

“Itu bidadari untuk Umar radhiyallahu ‘anhu, Sahabat mu.”  Jawab jibril,

Jibril meneruskan. “Sebab suatu ketika ia membayangkan tentang surga yang engkau ceritakan keindahannya. Dalam hatinya, Ia pun menginginkan bidadari yang berbeda dari yang lainnya. Adapun kriteria Bidadarinya itu: berkulit hitam manis, dahinya tinggi, bagian atas matanya berwarna merah, bagian bawah matanya berwarna biru, serta sifatnya sangatlah pemalu.”

Subhanallah, Begitulah hadiah bagi Umar yang selalu memenuhi kehendak Allah Ta’ala. Maka saat itu pula Allah menjadikan bidadari untuknya sesuai apa yang dikehendaki hatinya.

Siapa sih sesungguhnya Umar yang bisa mendapatkan bidadari special itu? Jika masih lekat dalam memori kita, Dialah sang pembuat onar dan calon pembunuh Rasulullah Saw. Tapi pasca berislam? Ia tampil sebagai pemberani yang ditakuti bahkan setan pun lari terbirit-birit daripadanya. Sang Preman dahulunya, lalu bertransformasi menjadi pahlawan bagi kaum muslimin. Al Faruq gelarnya. Pembeda artinya. Dakwah islam yang kala itu sembunyi-sembunyi. Menguat Karena kehadirannya dan Hamzah bin Abdul Muthalib. sehingga Islam kian kuat posisi nya di Makkah ketika itu.

Umar adalah sosok yang wara’ juga teliti. Hati-hati sekali pada dosa yang kecil-kecil. Takut pada neraka, khawatir sekali kalau menjadi munafik. Sering menangis ketika membaca Al Qur’an. Bahkan pernah pingsan hampir sebulan usai mendengarkan lantunan surat Ath-Thuur.

Karena kesungguhannya ini. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan Allah bersesuaian dengan kehendak hatinya. Seperti pengharaman Arak atau Khamr, ayat mengenai hijab, ayat tentang tawanan perang badar. Kata-katanya dikuatkan dalam Al-Qur’an, seperti komentar umar seputar penciptaan manusia.. “Fatabaarakallaahu Ahsanal Khaaliqin..” Maha suci Allah, Pencipta yang paling baik..” diabadikan dalam surat Al Mu’minun [23] ayat 12-14

Al Faruq ini juga punya kemampuan berfikir yang jenius. Mampu merancang strategi jihad ketika beliau ditengah shalat, merancang aba-aba kepada kaum muslimin untuk menaiki bukit ketika terdesak, padahal waktu itu sedang berkhutbah jum’at. Seorang Ulama menyifati beliau dengan ungkapan “Umar adalah orang yang ketika berpikir tentang sesuatu, juga mampu memikirkan sesuatu yang lain.” Ibnul Qoyyim menyebut Umar sebagai tadaffuqul Azamat. Memunculkan berbagai macam gagasan dan tekad pada waktu bersamaan. Amazing !

Demikianlah kisah tauladannya. Ternyata pribadi khusus mendapat hadiah khusus dari Allah. Unik jati dirinya, kaya gagasannya dan punya pula amal yang fenomenal. Kita bisa belajar dari Umar, jika mendapati diri penuh kekurangan, dosa kejahiliyyahan namun ingin melakukan lompatan besar.  Seperti hadiah bidadari yang pada waktunya akan membersamai Umar, semoga kita peroleh kado istimewa pula dari Allah Ta’ala di akhirat nanti. Atas perjuangan yang belum seberapa ini.

Bagaimana caranya ? Kata Hasan Al Banna, temukan potensi dari apa yang paling unik dan menonjol dari dirimu. Potensi itulah yang berpeluang besar untuk berprestasi, Kemudian latihlah. Kehebatan Umar era jahiliyyah justru tidak mati setelah masuk islam. Ia tetap gemilang bersama potensinya lalu mulia karena Islam.  Sama. Assalam tidak mematikan potensi kadernya setelah hijrah. Dakwah sekolah tidak mengekang potensi kadernya meski sudah menginjak kaki di kampus.  Tidak membuat yang percaya diri kemudian merosot minder. Tidak menjadikan yang pandai bergaul justru menutup diri.  Ia justru wadah optimalisasi potensi apa saja, namun mengarahkan pada sasaran yang benar, ialah tujuan dakwah-kejayaan Islam.

Khiyaarukum fil jaahiliyah khiyaarukum fil islaam idzaa faqihu.. Sebaik-baik potensimu dimasa jahiliyah akan jadi sebaik-baik prestasi di masa islam, jika kamu mengetahui.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *